ANGGARAN BIAYA TELOKOMUNIKASIKU

Standar

“Hari gini, gak punya handphone?!”— mengutip narasi sebuah iklan salah satu operator telepon seluler yang pernah booming iklannya—memang tepat bila diucapkan bila kita mengetahui seseorang yang cukup usia tapi belum mempunyai handphone, apalagi yang mengaku mempunyai mobilitas tinggi.

Pertama kali saya mempunyai handphone yaitu pada saat saya masih mahasiswa semester dua—tahun 2002. Handphone tersebut merupakan barang bekas yang saya beli dari teman seharga Rp500.000. Handphone bermerek Siemens seri M35 itu lebih sering saya gunakan untuk aktivitas SMS yang saat itu bertarif Rp350/SMS.

Untuk operator, saya memilih menggunakan produk dari Telkomsel yaitu Simpati yang saat itu harga startpack-nya Rp. 175.000 dengan bonus pulsa Rp. 100.000. Harga tersebut tentu sangat mahal bagi saya yang masih mahasiwa, tetapi hal itu bisa terbayarkan oleh kualitas sinyal operator yang sangat kuat. Terbukti saat saya menggunakan handphone di lantai Basment di sebuah gedung, sinyal Simpati tetap ada walaupun baris sinyal yang tertangkap pada handphohe tidak terlalu banyak. Bukti lain adalah pada saat saya mudik ke Pariaman, Sumatera Barat, saat itu hanya sinyal Simpati yang baru tersedia.

Untuk anggaran, saya mengalokasikan uang saku saya sebesar Rp100.000/3bln dengan perhitungan dua bulan masa aktif dan satu bulan masa tenggang. Cukup hemat, saya pikir. Maklum, masih mahasiswa. Selain itu, karena tarif percakapan Simpati saat itu sangat mahal dibanding operator lain, maka komunikasi saya lebih banyak menggunakan fasilitas SMS.

Seiring dengan perkembangan teknologi, berbagai operator mulai muncul dengan menawarkan tarif murah. Maka jadilah persaingan operator bukan hanya mengajukan jangkauan sinyal tetapi juga mengajukan tarif yang terjangkau. Kemudian muncullah CDMA yang tarifnya sama dengan telepon rumah, saat itu operator hanya Telkom Flexi dan Esia. Namun, saat itu saya belum tertarik dengan CDMA karena saat itu harus menggunakan handset injection, jadi tidak bisa ganti operator, ditambah lagi terbatasnya anggaran yang saya miliki, membuat saya berpikir lagi untuk membeli CDMA.

Setelah bekerja, saya pun membeli handphone Nokia CDMA rakitan/rekondisi dengan operator Esia seharga Rp450.000 dan ternyata saya bisa melakukan penghematan yang cukup signifikan. Maka sejak saat itu, saya lebih sering menggunakan Esia sedangkan Simpati lebih sering saya gunakan untuk menelepon pada jam tarif promo Rp300/menit yaitu pukul 23.00—07.00 yang sampai saat ini tarif promo tersebut terus diperpanjang oleh Simpati karena menjadi salah satu andalannya. Oia, pemakaian CDMA Esai juga semakin saya rasakan manfaat hematnya saat saya harus menjalin komunikasi intensif dengan calon istri saya—yang saat ini alhamdulillah telah menjadi istri saya tercinta—untuk mempersiapkan pernikahan kami. Karena (dulu) calon istri saya menggunakan operator yang berbeda—Mentari—maka saya lebih sering menelponnya ke rumah atau ke kantornya menggunakan Esia. Senangnya…, pulsa lebih hemat, komunikasi lancar.

Saat saya ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah, Esia baru akan launching di sini. Segera setelah Esia launching, saya pun membeli paket bundling esia dengan Handphone merek Huawei tipe RUIM, tetapi ternyata tetap saja handphone tersebut tidak compatible dengan kartu operator lain. Namun, karena saya sudah enjoy dengan tarif yang ditawarkan Esia, buat saya hal itu tidak masalah. Apalagi tarif percakapan Rp50/menit sekarang dapat dipergunakan untuk percakapan dalam dan luar kota. Sehingga, komunikasi saya dengan keluarga dan teman-teman saya di Jakarta yang kebanyakan mempunyai handphone CDMA dengan operator Esia, tetap jalan dan yang pasti tetap hemat.

Saat ini, pengeluaran pulsa Simpati dan Esia, saya anggarkan Rp75.000/bulan, dengan rincian pulsa; Rp50.000/bulan dengan masa aktif 50 hari untuk Simpati dan Rp25.000/bulan dengan masa aktif 30 hari untuk Esia. Alhamdulillah, sejauh ini cukup dan kalau pun pengeluarannya melebihi anggaran biasanya pada saat mudik ke Jakarta atau bila ada acara keluarga yang memerlukan komunikasi intensif.

Untuk handphone, walau pun saat ini banyak operator yang menawarkan berbagai macam fasilitas, seperti video conference, internet, dan kecanggihan komunikasi multimedia lainnya, saya masih setia menggunakan handphone saya yang masih monocrome, tanpa kamera, dan bluetooth. Hal itu, karena hingga kini kebutuhan saya terhadap handphone masih dalam lingkup percakapan dan sms saja. Mungkin, bila saya sudah menjadi eksekutif muda dengan mobilitas tinggi, saya akan membeli handphone dengan fasilitas di atas, InsyaAllah.

Walau demikian, saya tetap mengikuti perkembangan teknologi komunikasi, khususnya telepon seluler yang semakin berkembang dan menuju persaingan sempurna. Sehingga Konsumen pun semakin diuntungkan, karena dengan biaya yang murah, kualitas semakin bagus, dan fitur-fitur pun terus berkembang.

Harapan saya walau berbagai operator—baik lokal maupun luar negeri—masuk ke Indonesia, semoga operator seluler tetap mempertahankan dan meningkatkan kualitas dan pelayanannya dengan biaya yang terjangkau. Sehingga, tidak akan ada lagi komentar, “Hari gini tarif masih mahal?!, hari gini sinyal masih lemah?!, hari gini masih banyak persyaratan?!” dan komentar lainnya. Semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s