Rokok…. Kepulan Asapmu, Tangisku

Standar

Rokok….
Benda yang dibenci oleh sebagian (entah kecil atau besar) oleh kaum wanita, aku pikir. Termasuk aku. Aku lumayan sering berseteru dengan orang yang merokok di tempat umum. Hah… banyak deh pengalamam burukku dengan mereka. Seperti tersundut rokok ketika di tempat ramai, turun dari bis, dsb. Bahkan sampai salah satu jilbab kesayanganku ada yang terkena puntung rokok yang menyala sehingga berlubang. Hiks… kesalnya bukan main.

Rokok….
Benda yang aku pikir membuat beberapa orang lupa akan keselamatan orang lain. Tidak jarang aku lihat di restoran misalnya, laki-laki dengan santainya sehabis makan merokok di depan atau di samping teman wanitanya, istrinya, anak-anaknya—yang katanya dicintainya. Walaupun terkadang ada di antara mereka yang mengarahkan buangan asap rokok tidak ke arah teman bicaranya, tapi sadar gak sih… kalau tetap aja asapnya ke orang lain.

Benda yang juga membuat sebagian wanita begitu menikmatinya. Sampai tidak peduli akan wajah moleknya, sampai tidak peduli pada jilbab yang melekat di kepalanya, dan apakah juga tidak peduli pada kesehatan rahimnya? Atau tidak peduli juga pada kesehatan dan perilaku anaknya? Soalanya aku pernah melihat suatu peristiwa yang sangat miris. Saat aku berjalan di salah satu sudut kota Depok, JaBar, aku melihat seorang wanita merokok lalu tiba-tiba seorang bocah sekitar 3 tahun berlari menghampirinya lalu berkata, “Mak… mau dong rokoknya.” Sang Ibu melarang sambil tertawa, mungkin menganggap lucu reaksi polos dan spontan anaknya.

Aku pikir semua orang yang merokok tahu dan sadar akan bahaya merokok. Aku pikir juga orang-orang dekat dengan si perokok itu juga tahu betapa berbahayanya rokok dan betapa malangnya nasib perokok pasif. Contohnya saja, suamiku yang dituduh perokok berat gara-gara hasil ronsen thorax-nya menunjukkan ke arah sana. Padahal sekali pun suamiku tidak pernah merokok. Tetapi, memang dikeluarganya banyak yang perokok berat.

Alhamdulillah….
Aku tumbuh di keluarga yang tidak keranjingan merokok. Alhamdulillah suamiku tidak merokok. Alhamdulillah sejauh ini teman-teman yang merokok cukup mengharagaiku ketika merokok, semoga juga pada masyarakat lain. Alhamdulillah tidak sedikit juga orang yang bertekad untuk berhenti merokok.

Kisah Faresta Pepeng mungkin patut ditiru, Seperti yang dituturkan Mbak Tami—istrinya—dalam buku That’s All. Dia menceritakan bagaimana Pepeng menyatakan taubat untuk tidak merokok di depan anak-anaknya. Pepeng juga meminta maaf karena telah melarang anak-anaknya merokok tapi sering menyuruh anaknya membeli rokok. Akhirnya anak-anaknya pun membuat pengakuan bahwa mereka di luar rumah sudah merokok dan yang lebih mengejutkan, anaknya yang masih berusia 5 tahun pun sempat mencobanya. Menangislah Pepeng menyesalinya.

Kisah lainnya, anak sepupuku yang belum genap 6 bulan sudah di vonis punya masalah serius pada paru-paru dan jantungnya. Setelah diselidiki ternyata itu pengaruh dari bapaknya dan kakeknya yang sangat aktif merokok, ibarat kereta api, tidak berhenti asapnya mengepul sepanjang hari. Dan… menangislah sepupuku…. (entah suaminya, karena masih saja kuat merokok!)

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan evaluasi diri untuk para perokok aktif dan perokok pasif juga, tentunya. Agar ke depan kita bisa hidup nyaman, dan sehat.
Ya… ini memang tulisan biasa. Curhatan seorang ibu yang suka kesal karena dikeramaian tidak bisa nyaman karena sangat terganggu dengan berbagai polusi, termasuk asap rokok.
(bunda.dina@gmail.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s