Memandang Suatu Kejadian Dari Sudut Lain

Standar

Tulisan ini muncul beberapa jam setelah saya menulis status saya di FB tadi pagi.

setengahisisetengahkosong

setengahisisetengahkosong

Kejadian ini mengingatkan saya pada buku yang diterbitkan MQS dengan pengantar dari AA Gym dengan judul setengah “Setengah Isi Setengah Kosong”  yang intinya kita memandang suatu kejadian akan berbeda tafsir darimana sudut pandang kita.

sebagai contoh: anda akan berbeda komentar bila melihat cover buku tsb. Ada yg berkomentar setengah isi adapula yang berkomentar setengah penuh. Komentar kedua tersebut tidaklah salah

Kenapa ada perbedaan penafsiran dari gambar cover buku tsb? intinya terletak dari pengalaman dan sikap anda.

Contoh lainnya: beberap hari lalu saya menonton film pendek produksi TVRI Balikpapan yang mengisahkan ada seorang Nenek yang tersesat saat mencari alamat anaknya di Kota. Nenek tersebut bertanya kepada dua siswi SD untuk membantu mencari alamat tempat tinggal anaknya, namun 2 sisiwi SD tsb terlihat -terburu-buru menuju ke sekolah dikarenakan ada ulangan pagi ini sehingga tidak bisa membantu.

Tidak berapa lama nenek tsb ketemu sorang siswa SD lainnya, dan meminta tolong kepadanya untuk mencarikan alamat tempat tinggal anaknya. Namun dalam batin anak tsb berkecamuk ragu, antara membantu sang nenek atau segera menuju sekolah diakarenakan ada ulangan. Akhirnya hati baik sang Siswa bersambut untuk embantu sang nenek, tetapi sang Anak tidak mengenal nama Anak sang nenek, lalu sang Siswa SD tsb mengarahkan ke ketua RT untuk membantu mengkofirmasi warganya adakah nama anak sang nenek menjadi warganya. Untungnya Pak RT mengetahui nama anak sang Nenek dan bersama sang Siswa SD mengantarkan ke Rumah anaknya.

Setelah sudah sampai mengantarkan sang nenek ke rumah anaknya, sang Siswa SD segera lekas menuju sekolah, untunganya Anak si nenek mau mengantarkan sang Siswa ke sekolahnnya dengan motor sebagai bentuk rasa terimakasih.

Setelah mengantarkan sampai gerbang sekolah, sang Siswa lekas menuju kelas, namun setelah mengtuk pintuk kelas & meminta izin kepada Guru kelas, sang siswa tidak diperkenankan mengikuti ulangan dikarenakan dia terlambat & akhirnya di hukum di depan kelas.

Di sisi lainnya, anak sang nenek yg mengantarkan Siswa SD tersebut, merasa lupa untuk memberikan ucapan terimakasih yang sudah menjadi kebiasaan masyrakat kita dalam bentuk uang yang sekadarnya. Lalu sang Anak nenek mengajar si Siswa SD menuju kelasnya.

Alangkah kaget sang Anak Nenek mendengar dari luar kelas, sang guru sedang memarahi si Siswa SD. Sang Anak nenek segera masuk ke dalam kelas dan menanyakan penyebab sang Guru memarahi si Siswa.

Anak Nenek lalu menjelaskan duduk perkara kejadian kenapa si Siswa terlmbat dikarenakan si Siwa telah membantu Ibunua mencarikan alamatnya, spontan sang Guru meminta maaf kepada si Siswa dan mengizinkannya untuk ikut Ulangan.

(waduh panjang juga ya ceritanya, padahal jarang nulis loh)

Intinya kita sering menjustifikasi orang dari sudut negatif, jarang kita Positif thinking (kalo bhs arabnya Husnuzon) dikarenakan otak dan hati kita sudah menyatu untuk menjustifikasi dari sisi negatif diakibatkan kurangnya Qolbun Salim diantara kita.

Coba apa yg dipikiran Anda tentang Polisi, Pegawai Pajak, Hakim, Anggota DPR dsb? kemungkinan lebih banyak sisi negatifnya yang anda ketahui diakrenakan media kita juga membantu pencitraan tsb.

Pernahkan anda melakukan klarifikasi/tabayun terlebih dahulu?

Saya jadi inget ungkapan AA, kalo dapat berita harus BAL, yaitu Benar, Akurat dan Lengkap.

Jangan sampai terjadi permusuhan bahkan perkelahian diantara rekan/teman dikarenakan info yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tentunya waktu klarifikasi/tabayun dengan cara yang baik pula.

Ubahlah kebiasaan yang negatif menjadi yg positif, minimal hati kita jd tenang karenanya, jangan hati kita terus-menurus mjd gusar krn pandangan negatif kita sendiri.

Sebagai contoh:

Pemerintah akan menaikkan harga BBM. Komentar positif : berarti saya harus mengurangi penggunaan kendaraan pribadi & mudah2an pengalihan subsidi BBM bisa membantu rakyat kecil.

Bangsa ini bisa melakukan perubahan tanpa harus menunggu pemimpinnya berubah, minimal dari saya sendiri. Amin

dan masih banyak lagi contoh2 lainnya

Sekian. Kesalahan datang dari saya kebenara hanya milik Allah (wallahu bi shahab)

 

 

Cat: saya menerima saran & kritiknya krn sy juga sdg & akan terus belajar, saya percaya dasarnya manusia baik, yg jd masalah kalau manusia sdh dituruti oleh hawa nafsunya. Astagfirullah.

4 responses »

  1. Alhamdulillah, Kalo hening sejenak dari rutinitas insyaAllah banyak ide2 bagus bermunculan & siap d tuangkan dalam tulisan.

  2. positif thinking harus,.
    tapi kasus tentang kenaikan harga bbm ga cocok untuk dijadikan contoh berfikir positif krn permasalahn bbm membutuhkan solusi yg tepat bukan hanya dari individu tp dari para pengatur kebijakan dan pemegang wewenang.., sya juga awam, tapi coba mas dalami permasalahnnya,
    btw.. tulisan nya bagus(diluar contoh bbm td)

  3. Terimakasih atas masukannya.
    Tetapi kita harus Positive Thinking dengan segala kejadian. Bisa jadi pandangan kita mungkin tidak baik, tetapi pasti ada hikmahnya. Percayalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s