رحلة To Masohi (Maluku Tengah)

Standar

Perjalanan dimulai Hari kamis, 31 Mei 2012 dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengakareng. Pesawat Merpati dengan flight no. MZ884 (CKG-UPG) mengalami delay dari awal ETD 21.45 WIB menjadi 23.30 WIB. Dengan segera kami (tim) memutuskan untuk mengganti maskapai, Alhamdulillah kami mendapatkan Tiket Batavia Air untuk 3 orang dengan Flight no. Y6-837 dengan tujuan Makassar. Tiba sekitar pukul 02.30 WITA di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, perjalanan dilanjutkan dengan maskapai yang sama Fligt no. Y6-351 (UPG-AMQ) setelah mendokumentasikan suasana bandara.

Bandara SH

Bandara SH

Bandara Pattimura

Bandara Pattimura

Tiba Di Ambon sekitar pukul 06.00 WIT melalui Bandara Internasional Pattimura, lalu kami menunaikan Sholat Subuh, harap maklum karena subuh di Ambon sekitar jam 6 kurang. Setelah istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Tulehu dengan menggunakan Taxi (Mobil minibus plat Hitam).

Port of Tulehu

Port of Tulehu

Waktu yang ditempuh sekitar 1 jam. Dikarenakan masih pagi, kami masih bersempat untuk sarapan dan mnedokumentasikan suasan pelabuhan dan Kapal motor yang akan kami tumpangi untuk menyebrang ke Pulau Seram (Pelabuhan Amahai).

KM Cantika Torpedo

KM Cantika Torpedo

Sekitar Pukul 9 pagi, kapal cepat pun bergerak menuju Palabuhan Amuhai Kab. Maluku Tengah Pulau Seram. Dengan Tiket VIP seharga Rp. 150.000/orang kami mendapatkan kelas yang cukup nyaman dengan AC dan Kursi yang bisa direbahkan, Namun TV LCD yang berada di Kelas VIP tidak menyala sehingga kurang menghibur saya selama 2 jam pelayaran. 45 menit mendekati Pelabuhan Amuhai, kapal berada di laut Seram yang memilki Ombak yang cukup dahsyat, apalagi cuaca di Ambon saat itu kurang kondusif (sering hujan dan angin kencang). Bagi anda yang tak terbiasa di Ombang Ombak tentu akan merasakan pusing & mual, namun bagi saya masih bisa di nikmati ombak ini. Cuma yang membuat hati deg2an saat lambung kapal menapar permukaan laut dengan suara keras sehingga membuat ciparatan air yang cukup tinggi. Saat mendengar tamparan teresembut, saya berpikir apakah body kapal yang terbuat dari fiberglass akan pecah dan terbelah, namun karena liat suasana penumpang yang sebagian tidur dan menikmati ayunan ombak mebuat aku membuang pikiran negatif akan hal itu.

Klakson kapal dibunyika sesering mungkin menanadakan kapal akan berlabuh di Pelabuhan Amuhai, hati terasa senang saat melihat daratan sudah mendekat. Tiba di Amuhai tim di jemput pejabat dan pegawai KPPN Masohi, dilanjutkan perjalanan ke Kota Masohi sekita 20 menit dengan berkendaraan mobil pribadi. Sebenarnya di Pelabuhan Amuhai terdapat kendaraan angkutan desa baik yang seperti angkot maupun dalam bentuk Taxi/kendaraan pribadi untuk mengangkut penumpang menuju terminal/kota Masohi.

Anda Memasuki Kota Masohi

Anda Memasuki Kota Masohi

Setiba di Kota Masohi, pejabat setempat mengajak kami untuk makan siang di sebuah restoran Padang, ternyata ada juga restoran padang di Masohi dan katanya banyak langgananya adalah pejabat pemerintah di linkungan Kabupaten Maluku Tengah. Setalah makan siang kami pun di antar ke hotel untuk istirahat sebelum besok melakukan pembekalan seleksi pegawai KPPN Percontahan tahun 2012.

Kota Masohi kota yang cukup tenang dan nyaman, namun saat kami datang kota masohi masih keadaan tegang dikarenakan sebelumnya ada sekelompok massa yang melakukan pembakaran unit kantor Pemda Maluku Tengah akibat konflik Pilkada. Saat Kami berkeliling kota pada malam hari, beberapa polisi melakukan penjagaan guna menjaga ketertiban dan Keamanan kota.

di Kota yang kecil ini ternyata memiliki tempat karoke dan hiburan malam diatas bukit. Saat saya tanyakan ke rekan yang telah tinggal beberapa tahun di masohi tetang hiburan malam yang diatas bukit tidak di tengah kota, belaiu menjawab bahwa warga tidak menghendaki fasilitas itu ada di tengah kota. Ternyata penduduk Masohi agamis juga, walapun berbeda keyakinan. hal ini sudah kubuktikan saat saya ketinggalan Kamera di Hotel saat meninggalkan Hotel pada dini hari untuk melakukan perjalanan pulang ke Ibukota. Awalnya saya hopeless kamera saya ga bakal kembali, padahal banyak dokumetansi yang  belum saya beckup ke laptop walaupun saya masih sanggup untuk mebeli kamera baru nantinya. Namun momen2 indah yg diabadikan di kamera sungguh tak ternilai. Setelah saya kontak rekan pegawai di masohi utnuk menelusuri keadaan kamera saya, akhirnya beberapa hari kemudian kamera itu diketemukan dan kembali lagi ke pangkuan pemiliknya, ternyata benar kata teman “warga di sini jujur-jujur dan baik”.

Di kota masohi ada beberapa kuliner asli yang khas sini seperti Jus Gandaria yang mana buah ini belum pernah saya melihatnya walaupun di jakarta nama buah ini terkenal karena kawasan yang elit (Gandaria City).Ikan BakarIkan Kuah Kuning Kuliner lainnya aneka makanan dari Ikan, baik itu bakar maupun kuah kuning dengan rempah2 yang mebuat rasa menjadi nikmat dan tubuh menjadi hangat, kebetulan saat makan malam suasanan gerimis di kota Masohi. Selain kuliner asli, di masohi terdapat banyak warung-warung tenda khas lamongan yang menjual seperti pecel ayam, pecel lele, soto, sop dsb.

Malam terakhir kami di Masohi, rekan-rekan mengajak keliling kota Masohi yang sebagian buki-berbukit.

Di atas bukit Masohi

Di atas bukit Masohi

Di atas bukit ini kita bisa melihat suasan kota dan pebahuan yang penuh lampu kerlap-kerlip menandakan lampu mercusuar pelabuhan sedang berputar-putar. Menikmati minimum Saraba (seperti minuman STMJ) di pinggir laut bersama rekan sungguh nikmat sambil ngobrol ngalor-ngidul dan cerita masa silam Masohi dan Ambon. Gerimis [un membubarkan kami yang telah lama asik ngobrol ringan dengan rekan dan memaksa kami untuk kembali pulang ke Hotel. Malam sduah menunjukan pukul 00.30 WIT saat saya akan tidur padahal jam 3 pagi kami siap melakukan perjalan pulang kembali ke Ibukota. Betuk saja, aku agak telat bangun, saya bangun pukul 03.30 WIT dan segara Packing tanpa mandi, karena sebelum tidur aku sudah mandi dengan air hangat.

Tepat sekita Pukul 03.45 WIT jemputan kami tiba dan segera mengantar kami menuju Pelabuhan Waipirit ayang berada di sisi Barat Pulau seram dengan waktu tempuh sekitar 3 jam perjalanan dari Masohi. Niat kami berangkat pagi agar dapat mengejara kapal ferry jam 6 pagi. Kami pun pasrah apabila mendapatkan ferry dengan jadwal peneberangan berikutnya, namun karena kondisi jalan yang sepi, sang supir melaju kencang di jalan aspal yang mulus sehingga kami tiba di pelabuhan Waipirit tepat sebelum kapal ferry berangkat  di jadwal pertama, yaitu pukul 6 pagi.

Tiket Kapal

Tiket Kapal

Tiket Kapal ferry cukup murah hanya seharga Rp. 12.000/orang di tambah Lima ribu rupaiah untuk memasuki kelas eksekutif. Namun jangan dibayangkan kelas eksekutif dengan kapal roro (roll on -roll off) ASDP yang melayani penyeberangan merak-bakaheuni. Dengan menumpang KMP Samandar setelah 2 jam perjalanan dengan ombak yang tenag kami tiba di Pelabuhan Hunimua Liang Ambon.

Pantai Liang

Pantai Liang

Di sekitar pelabuhan Hunimua terdapat pantai yang cantik dengan pasir pantai yang berwarna krem, banyak anak-anak saat pagi itu sedang berenang dan bermain di pantai tersebut. Namun ombak air yang deras dikarenakan cuaca yang mendung menyurutkan niat kami untuk menikmati air laut di pantai Liang. Taxi yang kami pesan pun sudah menunggu kedatangan kami, kami bergegas menuju Bandara Pattimura. Selama perjalanan kami melewati bukit-bukit, Pelabuhan Tulehu dan mampir di pantai Natsepa untuk mengabadikan momen, namun sayang ombak yang cukup besar dan air laut yang lagi pasang, hanya menyisakan sedikit bibir pantai yang bisa kami pijak untuk berfoto ria.

Pantai Natsepa

Pantai Natsepa

Sangat disayangkan banyak sampah plastik dan dahan/ranting pohon yang berserakan di pantai tersebut. Supir mengajak kami melalui pinggir kota tidak melewati by pass sehingga kami bisa melihat aktivitas warga saat minggu pagi.

Patung Leimena

Patung Leimena

Kami juga sempat mengabadikan di tugu Patung Leimena yang masih di tutupi kain dikarenakan akan diresmikan Presiden SBY saat akan membuka MTQ Nasional di Ambon.

Dengan lepas landasnya pesawat Batavia Air (flight no Y6-344) menuju Jakarta via Surabaya, berkahir pula perjalanan kami di Propinsi Maluku. Selamat Tinggal Ambon Manise sampai jumpa di lain kesempatan. Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s