Menghargai

Standar

Sol SepatuBeberapa tahun yang lalu anak sulungku mendapatkan warisan sepatu dari sepupunya, saat itu ukurannya masih kebesaran. Sepatu itu kini sudah cukup muat di kakinya. Sepatu santai tersebut ia kenakan saat kami akan bermain futsal di lapangan komplek. Sepertinya dia menyukai sepatu tersebut karena solnya tebal dan tidak menggunakan tali walapun kulitnya telah mengelupas sebagian.

Saat menuju lapangan, anakku berlari dan terjatuh dikarenakan sepatu tersebut jebol alias lepas solnya. Dia sempat kecewa karena sepatu yang barusan ia senangi sudah terlihat rusak, bahkan ia sempat ngambek dengan meningalkan sol sepatu tersebut di jalan. Aku membujuknya “ambillah nak, nanti kita sol di tukang sol sepatu”.

Beberapa hari kemudian, Tukang Sol Sepatu lewati rumah kami. Ku suruh si Sulung tuk menghentikan laju si Abang Tukang Sol karena aku lagi repot me-nina-bobo-kan si bungsu. Ku tanyakan pada si sulung untuk bertanya berapa ongkos pengerjaannya. Aku mendenger dari dalam rumah, si Abang tukang sol menyebut biasa aja, 25 ribu lah. Kubilang OK pada si sulung tanda aku setuju.

Saat pengerjaan sol sepatu, istriku juga ingin mengesol sandal kesayangannya. Menurutku sandal istriku sih biasa aja apalagi mereknya ga jelas, dalam hatiku “sandal ginian mah ga usah di sol, minta baru juga ku bakal beliin, apalagi di Mall lagi banyak obral akhir tahun dan sebentar lagi kayaknya aku bakal dapat rizki dari rapelan uang saku Tubel selama 4 bulan”.

Dari kisah diatas, dapat ku ambil hikmahnya, bahwasanya anakku yang sulung dan istriku dapat menghargai barang yang dimilikinya baik itu pemberian orang ataupun pembelian sendiri. Banyak sekali ku mendengar rengekan anak2 kecil maupun remaja saat ini yang kurang bersyukur. Sepatunya masih layak, pengen minta yang baru karena mengikuti mode. Sepatunya banyak, tapi tak pernah kepakai semua sampai akhirnya kesempitan. Mungkin hal ini sepele bagi para Suami atau Ortu “ahh… kan harga barunya Cuma segini, gapapa lah sekalian nyenengin Istri atau anak”. Padahal mindset yang terjadi saat ini lebih banyak pengennya dari pada butuhnya, hal itulah yang mengakibatkan sifat konsumerisme. Saya sih lebih setuju, boleh membelikan suatu barang yang baru asal barang yang lamanya di sedekahkan, sehingga kita senang orang lain pun ikut senang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s