The Poernomos Story #1

Standar

Day#2
home@jember

19275084_10154746982738927_4429577716755198195_n

Saya dilahirkan tanpa punya kampung. Ayahnya papa orang Semarang, tapi hidup di Jakarta. Ibunya? orang Betawi. Ayah mama orang Silungkang, Sumbar. Ibunya orang Malang. Tapi keduanya sudah merantau bahkan sebelum mama lahir.
Tinggallah saya menyebut Jakarta sebagai kampung halaman. Absurd memang. Asal Jakarta tapi bukan asli Betawi.

Implikasinya jelas. Setiap lebaran saya hanya ke Kebon Kacang, Tanah Abang. Kedua Mbah saya tinggal hanya beda gang. Kebiasaan ‘mudik’ tahunan yg tidak berbeda dgn kunjungan mingguan. Melihat teman-teman yang punya kampung jelas bikin iri. Mendengar mereka bercerita tentang perjalanannya membuat saya ingin ganti topik pembicaraan. Sebagai gantinya, saya bilang orang yang mudik itu kampungan, “ndeso”, apalagi kalo liat rombongan orang memaksakan naik bus, kereta dan kapal laut. Bawa-bawa kardus mie instant lagi. Apa gak ada waktu lain apa? Apa gak kasian sama anak-anaknya? Apa gak sayang sama uangnya?.

Tapi itu dulu, sebelum tahun 2005. Tahun dimana saya melamar dan menikahi gadis Sumbersari, Jember (5 jam jalan darat dari Surabaya). Setelah itu saya jadi rutin mudik lebaran. Dua tahun sekali. Selang seling dengan Jakarta. Akhirnya saya resmi jadi orang kampung “Ndeso”. Perlahan saya paham bahagianya orang mudik. Suasana kebatinan penumpang yang akan pulang bertemu keluarga terasa sejak di bandara. Saya jadi mengerti kenapa wajah orang mudik tetap bahagia walau berhimpitan di bus dan berjubelan di kereta. Mereka rindu suasana rumah. Wangi seduhan daun teh di cangkir favorit. Harum rumput yg baru dipotong. Riuh rendah canda ponakan. Kenangan masa kecil di setiap surut rumah. Dan yang paling ditunggu, senyum bahagia orangtua menyambut kedatangan kesayangannya.

Saya dapat Jember satu paket dengan isteri. Buah mahar dan janji yg terucap yang luar biasa nikmatnya. Lengkap dengan keluarga, orangtua dan sudut-sudut kota Jember. Setiap saya mudik. Saya rasakan hangat rindu mengalir deras. Rindu suasana kampung. Rindu masakan mertua, kencan dgn isteri di warung STMJ depan SMAN 1 saat anak-anak telah terlelap, tahu lontong depan Depot Jawa Timur dan bakso Solo depan Matahari.

Sekarang saya punya dua kampung. Yang satu ‘kampung’ Jakarta lengkap dengan gelap gempita kotanya. Satu lagi kampung Jember lengkap dengan kehangatan dan ketenangan sentimentalnya. Nikmat dua kampung ini kelak akan saya turunkan ke Obigh dan Aqib. Kelak mereka akan belajar banyak dari dua kampung yang berbeda ini. Belajar hidup keras, tahan banting dan mandiri ala ‘kampung Jakarta. Belajar rendah hati, tenang, sabar dan ikhlas dari kampung Jember. Keduanya lengkap dengan cinta. Insyaallah karena Allah di dalamnya.

Aamiin..

***

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?): QS.55
Lainsyakartum laaziidannakum walainkarfartum inna ‘adzaabii lasyadid” (Jika kalian bersyukur pasti akan Aku tambah ni’mat-Ku padamu tetapi jika kalian kufur sesungguhnya adzab-Ku amat pedih): QS.14:7

sumber: https://www.facebook.com/tonny.w.poernomo/posts/10154746982818927

Standar

Problem : ada warga datang pagi ke kelurahan tuk minta ttd di KKnya karena mo ngurus Akta Kelahiran, tetapi Pak Lurah nya tidak ditempat karena sedang di Balaikota menghadiri acara.

Solusi1: Kalo cuman rapat atau pengarahan, bisa dimanfaatkan sarana video conference sehingga Pak Lurah tetap selalu di tempat
Solusi2: acara pengarahan/brifing di ubah jam nya sebelum atau setelah jam layanan
Solusi3: ada penunjukan penggantian pejabat penandatangan, ini berguna juga kalo Pak Lurah cuti, sakit atau urusan mendadak lainnya.

Ayo donk berubah….
@DKIJakarta – with @mom_andina at kantor kelurahan pejaten timur

View on Path