“Out of The Box” dalam Penyerahan DIPA TA 2023

Standar

Ada hal unik pada penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2023 yang dilakukan KPPN Balikpapan kepada satker Politeknik Negeri Balikpapan (Poltekba). Acara yang biasanya dilakukan secara formal dan bertempat di ruang rapat atau aula kantor, kali ini penyerahan DIPA petikan dibungkus dalam pertandingan bulutangkis persahabatan yang dilaksanakan pada Jum’at pagi 9 Desember 2022 bertempat di Sport Center Kampus Poltekba jalan Soekarno Hatta KM 8 Balikpapan.

Sebelum pertandingan persahabatan dimulai, dilakukan pemotongan tumpeng sebagai tanda peresmian fasilitas olahraga di kampus Poltekba lalu dilanjutkan penyerahan DIPA petikan dari Kepala KPPN Balikpapan, Fitra Riadian kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) satker Poltekba sekaligus Direktur Utama, Ramli. Inilah momen langka yang pernah dilakukan pada unit vertikal Ditjen Perbendaharaan dalam proses penyerahan DIPA petikan karena dilakukan dilapangan olahraga dengan pakaian non formal sehingga membentuk suasana kehangatan dan keakraban dengan mitra kerja. Setelah penyerahan DIPA Petikan, KPA satker juga melakukan penandatanganan pakta integritas sebagai komitmen KPA dalam pelaksanaan anggaran yang akuntabel dan tranparan.

Setelah acara seromonial peresemian fasilitas olaharaga, penyerahan DIPA petikan dan penandatanganan pakta integritas, acara yang ditunggu-tunggu akhir digelar juga yakni pertandingan bulutangkis persahabatan antara KPPN Balikpapan yang diwakili Kepala Kantor, Fitra Riadian berpasangan dengan Kasi Vera, Mochamad Ramdani melawan perwakilan Poltekba yang diwakili Direktur Utama, Ramli berpasangan dengan Wakil Direktur III, Candra Irawan. Pertandingan cukup seru karena terjadi rubber set, walau di set pertama perwakilan KPPN Balikpapan sempat unggul, namun pertandiangan diakhiri kemenangan perwakilan Poltekba dengan skor 2-1.

Apresiasi kepada Pimpinan Kami

Standar

Alhamdulillah….

Akhirnya passion itu dapat tersalurkan kembali. Kadang kita harus berani promosi terkait keinginan kita kepada orang lain dan nekat untuk mewujudkannya. Dan ini buktinya:

Memandu Ice Breaking di Kampus Politeknik Negeri Balikpapan
Pembawa Acara FGD Manajerial KPPN Balikpapan

Memandu Games Capacity Building KPPN Balikpapan

Berkunjung ke Kampung Simerbei

Standar

Sangat senang rasanya saat pertama kali Kepala Seksi (Kasi) Bank KPPN Manokwari, Bapak Edi Suwarno menawarkan kepada saya untuk ikut serta pada kegiatan Monitoring dan Evaluasi (monev) dana desa di Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf). Kegiatan monev dana desa merupakan salah satu dari Tusi KPPN yang bertujuan untuk memastikan tersalurkan dan pemanfaatan dari dana desa tersebut. Setelah berkoordinasi dengan pendamping dana desa wilayah Kabupaten Pegaf, akhirnya diputuskan desa yang akan kami kunjungi adalah Kampung Simerbei Distrik Minyambouw Kabupaten Pegunungan Arfak, yang lokasinya masih dekat dengan perbatasan kabupaten Manokwari. Oiya, di papua dan papua barat kampung adalah istilah dari sebuah desa, sama hal dengan daerah lain, nama struktur tingkatan pemerintah terendah tersebut bisa berbeda-beda istilah, seperti Nagari di Sumatera Barat, Banjar di Bali, Gampong di Aceh dan sebagainya. Kenapa desa adalah tingkatan pemerintahan paling rendah? Karena pemimpinnya atau kepala desa dipilih berdasarkan musyawarah mufakat maupun pemilihan secara langsung oleh warga. Menurut undang-undang nomor 6 tahun 2015 tentang desa, desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintahan desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sedangkan Pemerintah Desa adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa.

Medan berat nan terjal dalam perjalanan ke lokasi

Medan berat nan terjal dalam perjalanan ke lokasi

Sebelum saya membahas hal yang menarik dari pemberdayaan dana desa di Kampung Simerbei, Saya akan sedikit menceritakan perjalanan kami menuju lokasi. Jarak lokasi dari pusat kota Manokwari sekitar 75 Km. Kami berempat, yaitu: saya, Pak Edi (Kasi Bank), Mas Farid (pegawai KPPN Manokwari) dan Pak Hans (pendamping desa, PPNPN pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Kampung Provinsi Papua Barat) menyewa sebuah kendaraan berjenis SUV pick-up dengan spesifikasi memiliki penggerak empat roda dan memiliki fasilitas radio panggil. Sekitar pukul 9 pagi kendaraan kami bergegas menyusuri jalan nasional manokwari-maruni dengan kondisi jalan yang cukup mulus. Setalah persimpangan di Warmare kearah Pegaf, kondisi jalan semakin kecil dengan bukit dan jurang di kedua sisinya. Perjalanan terus berlanjut hingga kami bertemu kondisi jalan yang cukup ekstrim yaitu jalan berbatuan tanpa lapisan aspal, kadang berupa tanah yang padat serta kontur jalan yang mendaki. Pada kondisi ini dibutuhkan keahlian dalam mengemudi serta berkoordinasi dengan pengendara lainnya. Terdapat bidang jalan yanag hanya dapat dilalui satu kendaraan saja karena sisi lainnya jalan amblas terbawa longsor, disinilah peran radio panggil untuk berkomunikasi sesama pengemudi. Ada kalanya kita menunggu dibawah untuk mempersilakan kendaraan dari atas yang akan turun terlebih dahulu dan sebaliknya. Di medan ini terdapat beberapa truk terjebak dalam kubangan tanah yang cukup liat dan dibantu dengan cara ditarik dengan kendaraan lainnya. Di jalur ini pula sang sopir mengaktifkkan mode berkendara dengan penggerak empat roda. Di satu sisi bagi yang suka petualang seperti saya, tentu sangat menikmati suasana ini hingga saya berpindah posisi di bak belakang mobil untuk menikmati tantangan medan saat berjalan dan segarnya udara pegunungan, tetapi bagi tidak suka, akan menjadi sikksaan disepanjang jalan. Akhirnya setelah lebih tiga jam berkendara, kamipun tiba di Balai Kampung Simerbei dengan disambut antusias warga.

Setelah memulai perkenalan anggota tim monev dan memaparkan maksud dan tujuan kami, kepala kampung menjelaskan upaya-upaya yang telah dilakukan dalam pemanfaatan dana desa untuk pemenuhan kebutuhan warga. Dari hasil paparan dan

2

Deretan rumah warga yang sudah direnovasi

kunjungan langsung ke lapangan, dana desa yang telah bergulir lima tahun terakhir di kampung ini telah nampak hasil pembangunan fisik sarana dan prasarana warga. Hampir semua rumah warga telah direnovasi dengan spesifikasi standar yang baik. Tersedia fasilitas MCK hampir di setiap rumah warga. Aksees jalan pun sudah dilakukan pemadatan dengan penyemenan. Mayoritas penduduk Kampung Simerbei adalah pencocok tanam, mereka memiliki ladang tanaman diatas bukit, selain itu juga memperdayakan lahan kosong di perkarangan rumah atau di pinggir jalan. Untuk pembangunan fisik menurut saya bukan suatu yang takjub, tetapi saat kepala kampung menyampaikan dokumen laporan keuangan beberapa tahun  kebelakang, saya sangat takjub karena dibuat secara sederhana tapi terlihat akuntabel dan transparan. Terlihat dengan jelas pos-pos pemasukan dan pengeluaran didapat dari mana saja dan digunakan untuk apa saja. Selain itu kekompakkan warga perlu diberikan apresiasi, karena pembangunan, pekerjaan dan hal sebagainya dilakukan secara begotong royong dengan swadaya masyarakat, hal inilah yang menjadi keunggulan kampung ini. Dalam teori yang kuketahui, disebut dengan modal sosial.

Sebelum dana desa digulirkan di kampung Simerbei, kampung ini telah mendapatkan program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan merupakan program nasional penanggulangan kemiskinan terutama yang berbasis pemberdayaan masyarakat[1]. Dana yang digelontorkan PNPM mandiri perdesaan bersifat pancingan, dalam artian dana program hanya diberikan sebagian dan sebagian lagi berasal dari masyarakat. Kini hasil PNPM mandiri di Kampung Simerbei masih dapat dinikmati hingga sekarang berupa jembatan diatas sungai kecil di ujung jalan akses masuk kampung.

3

Warga antusias mendampingin tim monev dana desa

Fukuyama (2000) mendefiniskan modal sosial sebagai kumpulan nilai-nilai atau norma-norma informal secara spontan yang terbagi di antara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalinnya kerjasama di antara mereka. Mereka harus mengarah kepada kerjasama dalam kelompok dan berkaitan dengan kebajikan-kebajikan tradisional seperti: kejujuran; memegang komitmen; bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan norma saling timbal balik. Pada kondisi tertentu modal sosial dapat memfasilitasi tinggnya derajad inovasi masyarakat dan daya adaptasi masyarakat.

Konsep modal sosial muncul dari pemikiran bahwa anggota masyarakat tidak mungkin dapat secara individu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Diperlukan adanya kebersamaan dan kerjasama yang baik dari segenap anggota masyarakat yang berkepentingan untuk mengatasi masalah tersebut.

Pemikiran seperti inilah yang pada awal abad ke-20 mengilhami seorang pendidik di Amerika Serikat bernama Lyda Judson Hanifan untuk memperkenalkan konsep modal sosial pertama kalinya. Dalam tulisannya berjudul The Rural School Community Centre (1916).

Hanifan mengatakan modal sosial bukanlah modal dalam arti biasa seperti harta kekayaan atau uang, tetapi lebih mengandung arti kiasan, namun merupakan aset atau modal nyata yang penting dalam hidup bermasyarakat. Menurut Hanifan, dalam modal sosial termasuk kemauan baik, rasa bersahabat, saling simpati, serta hubungan sosial dan kerjasama yang erat antara individu dan keluarga yang membentuk suatu kelompok sosial.

Modal sosial merupakan suatu komitmen dari setiap individu untuk saling terbuka, saling percaya, memberikan kewenangan bagi setiap orang yang dipilihnya untuk berperan sesuai dengan tanggung jawabnya. Sarana ini menghasilkan rasa kebersamaan, kesetiakawanan, dan sekaligus tanggung jawab akan kemajuan bersama. Modal sosial mempunyai fungsi sebagai berikut[2]:

  1. Alat untuk menyelesaikan konflik yang ada di dalam masyarakat.
  2. Memberikan kontribusi tersendiri bagi terjadinya integrasi sosial.
  3. Membentuk solidaritas sosial masyarakat dengan pilar kesukarelaan.
  4. Membangun partisipasi masyarakat.
  5. Sebagai pilar demokrasi.
  6. Menjadi alat tawar menawar pemerintah.

Dari paparan singkat tentang modal sosial, terlihat bahwa warga Kampung Simerbei memiliki modal sosial yang kuat hal ini sesuai apa yang disampaikan kepala kampung tentang antusias warga dalam bergotong-royong serta opini/komentar positif warga terhadap kepala kampungnya. Jadi, selain kepemimpinan kepala kampung yang baik, juga perlu didukung partisipasi warga dalam mensukseskan program pemerintah dalam hal ini pemberdayaan dana desa yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan pembangunan desa melalui peningkatan pelayanan publik di desa, memajukan perekonomian desa, mengatasi kesenjangan pembangunan antar desa serta memperkuat masyarakat desa sebagai subjek dari pembangunan. Maka, patut diberikan apresiasi kepada jajaran Pengurus dan warga kampung yang telah menjalankan amanah dengan baik dari sisi perencanaan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban dana desa.

[1] http://www.pnpm-mandiri.org/PengertiandanTujuan.html

[2] https://idtesis.com/pembahasan-lengkap-modal-sosial-menurut-para-ahli-dan-contoh-tesis-modal-sosial/

Penugasan Singkat ke Teluk Wondama (Cruise to Wondama Bay)

Standar

Produksi Lokal

Saya dan rekan mendapatkan tugas dari Pimpinan untuk melakukan monitoring dan evaluasi (monev) satuan kerja (satker) yang belum melakukan penggantian uang persedian (GUP) dengan batas waktu yang telah ditentukan dan satker yang belum menyampaikan laporan pertanggungjawaban (LPJ) bendahara pengeluaran. Kami berangkat pada hari Rabu (21/3) siang dari Kota Manokwari menggunakan kapal cepat Express Bahari 9E, kapal buatan asli Indonesia ini yang dibangun di kota Tanjung Pinang Provinsi Kepulaun Riau, hal ini terlihat dari plakat informasi yang tertera di dalam kapal. Tepat pukul 12.00 WIT kapal meninggalkan pelabuhan kecil Manokwari. Kenapa saya sebut pelabuhan kecil? karena pelabuhan ini berbeda lokasi dengan pelabuhan Manokwari pada umumnya yang melayani kapal-kapal yang cukup besar seperti kapal Pelni dan kapal kontainer. Lokasinya sekitar 750 meter ke arah barat dari Pelabuhan Utama.

Jadwal

Perlu diketahui, kapal cepat Express Bahari 9E melayani rute Manokwari – Wasior pergi pulang setiap hari kecuali hari selasa dengan transit dibeberapa pelabuhan kecil yang berbeda sesuai jadwal. Saat keberangkatan kami pada hari rabu, kapal ini transit di dua pelabuhan kecil yakni Pelabuhan Roswar dan Pelabuhan Yende. Kapal cepat ini menyediakan dua kelas untukk penumpang yakni kelas Excutive dengan harga tiket sekitar tiga ratus ribu rupiah dan kelas VIP dengan harga tiket lima ratus lima puluh ribu rupiah, harga tidak dibedakan antara usia anak-anak atau dewasa.

Interior

Konfigurasi tempat duduk kelas VIP

Dari spesifikasi gambar kapal yang tertera di dinding, terdapat 3 area untuk kelas eksekutif dengan 2 area tertutup karena berada di lantai bawah namun tersedia penyejuk udara yang membuat suhu udara di ruangan terasa sejuk. Sedangkan 1 kelas eksekutif dengan area terbuka dimana penyejuk udara ruangan dimatikan namun pintu kecil di sisi samping dan belakang kapal terbuka sehingga dapat mengalirkan udara dari luar ke dalam ruangan. Ruangan ini cocok untuk penumpang yang tidak tahan dengan ruangan berpenyejuk udara. Di kelas eksekutif dengan area terbuka memiliki akses pintu keluar ke area geladak kapal dan atap kapal, tapi biasanya dipenuhi penumpang yang ingin merokok. Di ruangan tersebut juga tersedia kantin dengan makanan ringan dan aneka minuman siap saji (teh, kopi dan sebagainya).

Snack

Snack di perjalanan

Fasilitas untuk kelas eksekutif tersedia kursi penumpang dengan jok yang cukup empuk namun tidak bisa direbahkan, TV layar besar yang menampilkan siaran TV dengan jaringan parabola yang dipasang di atap kapal serta penyejuk udara (terdapat 2 area). Sedangkan fasilitas untuk kelas VIP adalah ruangan dengan 3 mesin penyejuk udara besar, TV datar layar besar yang memutar film-film terkini atapun memutar lagu-lagu karaoke, toilet khusus, kursi yang dapat direbahkan dengan konfigurasi 2-3-2 dan mendapatkan air mineral ukuran 600ml dan mie instan cup siap seduh.

Sekitar pukul 16.00, kapal bersandar di pelabuhan kecil Roswar selama kurang lebih 15 menit, lalu melanjutkan perjalanan dengan transit berikutnya di pelabuhan Yende sekitar pukul 17.15. Akhirnya pada pukul 18.45 kapal kami bersandar di Pelabuhan Wasior. Cuaca cukup cerah saat kami tiba, keluar dari kapal dan menuju pintu keluar pelabuhan kita akan melihat sign “Welcome to Wondama” yang cukup besar dan sangat indah di foto saat malam hari karena ada efek cahaya dari lampu sorot. Di area luar pelabuhan sudah tersedia beberapa tukang ojek yang dapat mengantarkan kita sesuai tujuan yang kita inginkan. Tarif tukang ojek kisaran Rp 5.000 s.d. 50.000 sesuai jauh-dekat jarak tempuh. Di Wasior memiliki beberapa penginapan, kami memilih bermalam di Hotel Darmaji karena hotel ini yang paling direkomendasikan dari rekan saya, eits… jangan berpikir hotel ini setara bintang 3 ya…., hotel ini mungkin masuk kategori hotel melati dengan fasilitas perlengkapan yang sudah lama tapi tersedia penyejuk udara di dalam kamar.

Keluar dari pelabuhan, kami memutuskan jalan kaki menuju Hotel sekaligus melihat-lihat sekitar kota dan mencari makan malam. Kami memutuskan untuk mampir di warung makan Golden Star, lokasinya persis bersampingan dengan Polsek Wasior. Menu yang disajikan lumayan lengkap dengan harga yang masih terjangkau (nasi campur dengan ayam goreng seharga lima belas ribu rupiah, menurut saya ini termasuk murah ukuran di Papua). Setelah santap malam, membersihkan diri akhirnya kamipun beristirahat untuk melaksanakan tugas di esok hari.

Sebelum melaksanakn tugas diawal hari, kami sarapan dahulu di hotel. Ada yang unik saat sarapan di hotel, ternyata sarapan tidak disediakan di ruang restoran, tetapi di antar ke masing-masing kamar tamu dalam bentuk nasi rames dalam sebuah piring dan segelas teh manis hangat. Untuk menuju lokasi satker yang akan kami kunjungi, kami menggunakan sepeda motor. Sebenarnya angkutan ojek tersedia banyak dikota, tetapi karena pertimbangan kami mengajar waktu dan menuju beberapa lokasi yang berbeda, kami memutuskan meminjam motor rekan yang tinggal di wasior. Infonya sih terdapat penyewaan motor, tapi kami tidak tahu dimana lokasinya.

Pusat pemerintahan Kabupaten Teluk Wondama ternyata cukup jauh dari pusat kota, berjarak  kurang lebih 14 Km ke arah selatan Kota Wasior dan masuk dalam wilayah distrik/kecamatan Rasiei. Akses ke tempat tersebut dengan kendaraan umum hanya ojek motor saja. Kondisi akses jalan menuju pusat Pemkab tidak semuanya mulus, ada beberapa bagian jalan masih berupa undukan batu-batu kerikil sehingga kita harus hati-hati dalam mengemudikan motor kita. Kabar baiknya, lebar jalan sudah cukup baik dengan menampung empat lajur.

Sebagai informasi, KPPN Manokwari telah membuka layanan filial di Kabupaten Teluk Wondama sejak tahun 2015. Lokasi layanan filial tersebut kini menumpang pada kantor kecamatan yang sebelumnya menumpang pada kantor Pemda di komplek Pemkab Teluk Wondama. Selama berkantor di komplek Pemkab Teluk Wondama, pegawai yang bertugas melaksanakan pelayanan filial sering mengalami kendala, terutama aliran listrik dan jaringan internet. Bahkan ada rekan yang harus berjibaku membaga dirigen berisi penuh BBM dari pusat kota Wasior ke komplek Pemkab Teluk Wondama menggunakan motor guna bahan bakar menghidupkkan mesin genset. Kini semenjak berpindah di Kantor kecamatan yang berada di pusat kota wasior, pelayanan filial lebih mudah untuk dilaksanakan serta didukung jaringan internet yang cukup bagus.

Layanan filial dilaksanakan selama dua pekan di awal bulan kecuali di bulan Januari dan Desember karena di bulan tersebut volume pekerjaan cukup banyak di KPPN induk, yakni KPPN Manokwari. Selain di Kabupaten Teluk Wondama, KPPN Manokwari juga membuka layanan filial di Kabupaten Teluk Bintuni. Semenjak hadirnya layanan filial oleh KPPN Manokwari, tentu sangat membantu bagi satker-satker yang berlokasi di Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Teluk Bintuni dalam mengajukan proses pencairan dana dan pelaporan pertanggungjawaban bendahara. Apabila satker-satker tersebut harus mengajukan proses pencairan dan dan pelaporan pertanggungjawaban bendahar di Kota Manokwari, ada biaya dan waktu yang cukup banyak terkuras dalam melaksanakan operasional tersebut.

Kamis siang (21/3) kami sudah siap-siap kembali ke Manokwari. Dengan menggunakan Kapal Cepat yang sama kami memulai pelayaran sekitar pukul 12.00 WIT dengan rute Wasior-Yende-Roswar-Manokwari. Ada hal unik di setiap kapal transit di pelabuhan-pelabuhan kecil tersebut, karena banyak warga sekitar yang menjajakan hasil bumi dan tangkapan laut dengan harga yang cukup fantastis alias murah meriah. Ada yang menjajakan buah langsat dan duren, ada juga yang menjual pinang, Sagu bakar dan menjadi perburuan tuk oleh-oleh dibawa ke kota tentu saja adalah Udang Lobster dan berbagai jenis ikan. Di setiap transit, penumpang kapal segera berhamburan di area dermaga untuk memborong dagangan masyarakat sekitar. Hal ini berbeda waktu keberangkatan saya dari Manokwari–Wasior. Mungkin penumpang rute Wasior–Manokwari membeli sebagai buah tangan untuk keluarga/kerabat warga di kota, yang tentunya di Kota Manokwari harganya bisa lebih mahal.

Ditengah perjalan setelah transit di ke-2 pelabuhan kecil tersebut, sekitar pukul empat sore, ombak laut mulai meninggi sehingga mengakibatkan kapal cukup bergoyang. Sekitar tiga jam lamanya kami merasakan goyangan kapal yang cukup membuat perutku mual dan tidak nyaman untuk duduk berlama-lama di kursiku. Akhirnya setalah kapal mulai mendekat di sekitar perairan arfai, ombak tidak terlalu besar dan sekitar 19.15 WIT kapal kami bersandar dengan baikk dan selamat di pelabuhan Manokwari walau cuaca agak hujan di pelabuhan.

Hikmah yang dapat diambil  dari perjalananku ini, betapa Saya harus banyak bersyukur dari penempatan kerjaku di Kota Manokwari yang akses transportasi dan komunikasi masih cukup bagus dibaandingkan instansi lain yang berkedudukan di Kabupaten Teluk Wondama. Kami sebagai pengawal dana APBN juga harus memberikan pelayanan yang maksimal guna meendukung  pembangunaan di daerah dengan salah satu caranya membuat layanan filial di beberapa Kabupaten yang agak sulit terakses transportasi. Mungkin kedepannya penerapan e-SPM akan sangat membantu bagi Satker dalam proses pencairan dana serta tersedianya call center dengan nomor GSM yang akan memudahkan bagi satker di pelosok nusantara dalam berkonsultasi pada proses pencairan dan pelaporan dana APBN.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Seberapa Greget Lo?

Standar

Seberapa Greget Lo?
Saat akhir Tahun Anggaran, Banyak SPM yang masih sgera diproses, Sampai lembur malam-malam di kantor Baru yang lokasinya jauh dari kota, hari sudah larut malam sampai perkantoran di sekitar sudah sepi, saat jam sebelas malam tetiba masuk angin, pengen buang air besar, lalu ke kamar mandi dan ternyata air di keran ga ngalir. Akhirnya terpaksa ngumpulin sisa-sisa air di setiap ember didalam masing-masing kamar mandi baik di toilet pria maupun wanita dan terkumpul cukup hanya untuk nge-fluzz aja, tapi sakit perut ga bisa di tahan lama………. 😀

ga berani dilanjutkan lagi ceritanya …….. (ngebayangin aja sudah bikin perut ngakak)

ketawa lepas

#CatatanAkhirTahunAnggaran #MengawalAPBNdiPenghujungTahunAnggaran

Sertifikasi SSK Fundamentals of Macroprudential Policy

Standar

Materi Stabilitas Sistem Keuangan (SSK)-312 tentang Fundamentals of Macroprudential Policy Gelombang 2 Tahun 2018

1. Kebijakan Makroprudensial Dasar – DKMP 2018 Gel 2 (050918)
2. Pengawasan Makroprudensial