PEMBIAYAAN ULTRA MIKRO DIHARAPKAN TEPAT SASARAN KEPADA SEKTOR RIIL

Standar
PEMBIAYAAN ULTRA MIKRO DIHARAPKAN TEPAT SASARAN KEPADA SEKTOR RIIL

ToT Jambi 1Acara sosialisasi Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) danTraining of Trainers (ToT) Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) kembali digelar di Kota Jambi. Acara yang dilaksanakan pada hari Selasa, 14 November 2017 berlangsung dari pagi hingga sore hari, dibuka secara resmi oleh Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Provinsi Jambi, Ander. Acara tersebut dihadiri peserta dari Kanwil DJPb Prov. Jambi; KPPN lingkup Prov. Jambi; Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi; Pemerintah Kabupaten/Kota lingkup Prov. Jambi; Bank Indonesia (BI) Cabang Jambi; Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cabang Jambi; dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Jambi.

Ander dalam sambutannya mengapresiasi semua pihak dalam upaya meningkatkan ToT Jambi 2daya saing  UMKM, khususnya di Provinsi Jambi. Kepada stakeholder untuk mendukung program pembiayaan UMi, yang mana program tersebut berupaya menutup celah dari program KUR yang telah ada sebelumnya. Harmen Rusdi, Kepala Dinas Koperasi UMKM Provinsi Jambi dalam sambutannya mengapresiasi program pemerintah tersebut yang mana saat ini serapan tenaga kerja di Provinsi Jambi sekitar 90% berada pada sektor UMKM. Sehingga dengan bergulirnya program tersebut diharapkan dapat menggerakkan perekonomian sektor riil di Jambi. Selain itu, Harmen mengucapkan terimakasih atas program yang sedang bergulir ini karena telah membantu permasalahn UMKM dari sisi permodalan, walaupun masih terdapat sisi lainnya yang mesti dikuatkan seperti: SDM; Kelembagaan; dan Daya saing.

ToT Jambi 3Acara yang berlangsung dengan format talkshow yang lebih santai tetapi tetap memunculkan esensi, menghadirkan tiga narasumber, yaitu: Tunas Agung Jiwa Brata dari Direktorat Sistem Manajemen Investasi (Dit. SMI); Toni Andrianto dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP); dan Nunung Hidayati dari PT Permodalan Nasional Madani (PT PNM). Tunas mengungkapkan peran penting pemerintah daerah (pemda) dalam menseleksi calon debitur dan memasukkan data tersebut dalam aplikasi SIKP dikarenakan pemda yang paling memahami kondisi di lapangan, “jangan garbage in garbage out” ungkapnya.

 

Toni menjelaskan latar belakang kenapa program pembiayaan UMi hadir sebagai komplemen dari KUR, karena masih terdapat gap bagi UMKM dalam mengakses layanan perbankan. Dalam paparanya, ia mengisahkan pemulung yang berjalan kaki dan membawa sebuah karung di belakang pundaknya. Pemulung itu ditawarkan modal usaha sebesar 1juta rupiah dengan pendampingan oleh para penggerak dari lembaga keuangan bukan bank (LKBB). Uang sebesar itu dialokasikan 700ribu rupiah untuk membeli sepeda bekas dan 300ribu rupiah untuk membeli dua keranjang yang ditempatkan pada sisi samping sepeda. Dengan pemberian modal serta pendampingan, kini pemulung itu bisa lebih produktif baik dari waktu kerja dan jumlah barang yang didapatkan. Sehingga ia berkesimpulan, program pembiayaan UMi sangatlah membantu bagi diri dan keluarganya dalam meningkatkan penghasilan ekonomi keluarga.

 

Pada pemaparan terakhir narasumber, Nunung menghadirkan dua orang pelaku ToT Jambi 4atau debitur program pembiayaan UMi yang disalurkan melalui program Mekaar UMi dari PT PNM. Alus dari Jambi Timur telah bergabung pada program tersebut selama 1 bulan terakhir. Dia mengungkapkan betapa pembiayaan UMi sangat membantu dalam perekonomian keluarganya. Ia memulai usaha sebagai penjual gorengan atau makanan ringan untuk membantu suaminya yang hanya sebagai tukang ojek. Dengan angsuran sebesar 50ribu rupiah, Alus merasa angka segitu tidaklah besar dengan rata-rata omset dagangannya sebesar 40-50ribu perhari. Debitur berikutnya, Ana menceritakan pertam kali dalam hidupnya mendapatkan bantuan modal usaha, karena selama ini ia takut berhutang dikarenakan tiada barang yang dapat dijadikan jaminan. Program Mekaar UMi dari PT PNM dirasakan banyak manfaatnya, selain memberikan modal usaha juga melakukan pendampingan dan pembentukan kelompok sehingga tercipta kekeluargaa diantara sesama angota, saling membantu dan memberikan semangat dalam menjalankan usaha masing-masing anggota. Kini, usaha Ana sebagai tukang jahit semakin berkembang dan kedepannya mengharapkan adanya peningkatan modal usaha dari program Mekaar UMi ini, sambungnya.

ToT Jambi head

Sumber

Iklan

SINERGI STAKEHOLDER UNTUK KEBERHASILAN PROGRAM KUR DAN UMi

Standar

Semarang (17/10), Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. Jawa Tengah memberikan sambutan sekaligus membuka acara Sosialisasi Pembiayaan Ultra Mikro dan Training of Trainers (ToT) Sistem Informasi Kredit Program (SIKP).

Program pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Ultra Mikro (Umi) disasarkan untuk menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia yang saat ini sebesar 10,64% (BPS, Maret 2017). Segmen dari kedua kredit adalah UMKM yang merupakan porsi terbesar dari usaha di Indonesia. Dengan pemberian akses kredit, diharapkan investasi dan modal kerja UMKM dapat meningkat dan menggulirkan roda perekonomian serta menyerap tenaga kerja baru.

Saat ini masih terdapat permasalahan dalam penyaluran KUR dan UMi, yaitu dalam pengelolaan objek dan sasaran dari pembiayaan tersebut. Oleh karenanya, perlu data calon debitur yang memadai untuk mendukung program pemerintah tersebut. Hal itu yang dikemukakan Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharan (DJPb) Provinsi Jawa Tengah, Mirza Effendi saat sambutan pembukaan acara Sosialisasi Pembiayaan Ultra Mikro dan Training of Trainers (ToT) Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) pada Selasa, 17 Oktober 2017 di Hotel Novotel Semarang. Acara tersebut dihadiri sekitar 130 peserta dari Pemerintah Kabupaten/Kota se-Provinsi Jawa Tengah, Kanwil DJPb Provinsi Jawa Tengah dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) lingkup Provinsi Jawa Tengah.

Acara tersebut, membahasa pengenalan skema kredit KUR dan UMi serta pelatihan SIKP dengan sasaran sektor UMKM terutama kategori usaha mikro yang memiliki jumlah yang sangat besar. Oleh karena itu, Pemerintah Pusat tidak dapat bekerja sendiri mengingat keterbatasan APBN maka perlu melakukan sinergi dengan Pemerintah Daerah dan semua pihak guna mendukung kelancaran dan kesuksesan program tersebut.

Sampai dengan saat ini (17 Oktober 2017) jumlah akad KUR seluruh Indonesia pada tahun 2017 mencapai Rp 32,5 triliun dengan jumlah debitur sebanyak 1,3 juta orang (SIKP). Dari jumlah tersebut, debitur KUR di Jawa Tengah mencapai sekitar 282 ribu orang dengan nilai akad sebesar Rp 5,9 triliun (SIKP).

Acara yang dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah, dalam hal ini diwakilkan oleh Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Jawa Tengah, Ema Rachmawati menyatakan pihaknya siap dalam membantu memasarkan produk UMKM dengan menyediakan akses pasar serta menjalin sinergi dengan beberapa Kementerian terkait, serta berusaha merangkul pemerintah kabupaten/kota untuk memajukan UMKM di daerahnya masing-masing. Perlu diketahui jumlah seluruh UMKM di Provinsi Jawa Tengah belum terdata secara maksimal dalam SIKP.

Sejalan dengan pemberdayaan UMKM, Pemerintah Pusat dalam hal ini Kemneterian Keuangan membuat suatu skema yang disebut kredit Ultra Mikro (Umi). Segmentasi dari kredit ini adalah usaha ultra mikro dimana setiap usaha diberikan kredit dengan plafon setinggi-tingginya Rp 10 juta. Kreditini bersumber dari APBN dengan koordinasi Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Investasi Pemerintah (PIP) yang disalurkan melalui Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB). Skema pembiayaan UMi mewajibkan LKBB untuk memberikan pendampingan kepada debitur pembiayaan UMi. Saat ini telah terdapat kredit UMi yang telah disalurkan melalui produk ‘Kreasi UMi” dari Pegadaian, ‘Mekaar’ dari PNM serta produk-produk pembiayaan dari lembaga linkage seperti Koperasi Mitra Dhuafa (Komida), Koperasi Abdi Kerta Rahardja (AKR), Koperasi Syariah BMT Sidogiri, Koperasi Syariah BMT Bina Ummat Sejahtera (BUS), dan lain-lain.

Pada akhirnya KUR dan UMi disediakan untuk member kesempatan kepada UMKM agar dapat mengakses kredit usaha, sehingga dapat tumbuh besar dan memberikan kontribusi dalam penyediaan lapangan kerja yang akan berdampak pada pengurangan tingkat kemiskinan di Indonesia. (@mochram)

Sumber

The Poernomos Story #1

Standar

Day#2
home@jember

19275084_10154746982738927_4429577716755198195_n

Saya dilahirkan tanpa punya kampung. Ayahnya papa orang Semarang, tapi hidup di Jakarta. Ibunya? orang Betawi. Ayah mama orang Silungkang, Sumbar. Ibunya orang Malang. Tapi keduanya sudah merantau bahkan sebelum mama lahir.
Tinggallah saya menyebut Jakarta sebagai kampung halaman. Absurd memang. Asal Jakarta tapi bukan asli Betawi.

Implikasinya jelas. Setiap lebaran saya hanya ke Kebon Kacang, Tanah Abang. Kedua Mbah saya tinggal hanya beda gang. Kebiasaan ‘mudik’ tahunan yg tidak berbeda dgn kunjungan mingguan. Melihat teman-teman yang punya kampung jelas bikin iri. Mendengar mereka bercerita tentang perjalanannya membuat saya ingin ganti topik pembicaraan. Sebagai gantinya, saya bilang orang yang mudik itu kampungan, “ndeso”, apalagi kalo liat rombongan orang memaksakan naik bus, kereta dan kapal laut. Bawa-bawa kardus mie instant lagi. Apa gak ada waktu lain apa? Apa gak kasian sama anak-anaknya? Apa gak sayang sama uangnya?.

Tapi itu dulu, sebelum tahun 2005. Tahun dimana saya melamar dan menikahi gadis Sumbersari, Jember (5 jam jalan darat dari Surabaya). Setelah itu saya jadi rutin mudik lebaran. Dua tahun sekali. Selang seling dengan Jakarta. Akhirnya saya resmi jadi orang kampung “Ndeso”. Perlahan saya paham bahagianya orang mudik. Suasana kebatinan penumpang yang akan pulang bertemu keluarga terasa sejak di bandara. Saya jadi mengerti kenapa wajah orang mudik tetap bahagia walau berhimpitan di bus dan berjubelan di kereta. Mereka rindu suasana rumah. Wangi seduhan daun teh di cangkir favorit. Harum rumput yg baru dipotong. Riuh rendah canda ponakan. Kenangan masa kecil di setiap surut rumah. Dan yang paling ditunggu, senyum bahagia orangtua menyambut kedatangan kesayangannya.

Saya dapat Jember satu paket dengan isteri. Buah mahar dan janji yg terucap yang luar biasa nikmatnya. Lengkap dengan keluarga, orangtua dan sudut-sudut kota Jember. Setiap saya mudik. Saya rasakan hangat rindu mengalir deras. Rindu suasana kampung. Rindu masakan mertua, kencan dgn isteri di warung STMJ depan SMAN 1 saat anak-anak telah terlelap, tahu lontong depan Depot Jawa Timur dan bakso Solo depan Matahari.

Sekarang saya punya dua kampung. Yang satu ‘kampung’ Jakarta lengkap dengan gelap gempita kotanya. Satu lagi kampung Jember lengkap dengan kehangatan dan ketenangan sentimentalnya. Nikmat dua kampung ini kelak akan saya turunkan ke Obigh dan Aqib. Kelak mereka akan belajar banyak dari dua kampung yang berbeda ini. Belajar hidup keras, tahan banting dan mandiri ala ‘kampung Jakarta. Belajar rendah hati, tenang, sabar dan ikhlas dari kampung Jember. Keduanya lengkap dengan cinta. Insyaallah karena Allah di dalamnya.

Aamiin..

***

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?): QS.55
Lainsyakartum laaziidannakum walainkarfartum inna ‘adzaabii lasyadid” (Jika kalian bersyukur pasti akan Aku tambah ni’mat-Ku padamu tetapi jika kalian kufur sesungguhnya adzab-Ku amat pedih): QS.14:7

sumber: https://www.facebook.com/tonny.w.poernomo/posts/10154746982818927

Persepsi Atas Perilaku Keamanan Informasi Pada Pegawai Program S-1 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Standar

262383_mochamad-ramdani_eman
INTISARI

Masalah keamanan merupaka salah satu aspek penting bagi sebuah sistem informasi. Faktor dominan dalam keamanan informasi adalah kurangnya sumber daya manusia baik kuantitas maupun kualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran kognitif individu terkait dengan keamanan informasi (information security exposure, information security self-efficacy, perceived information security important) terhadap perilaku keamanan informasi (information security behavior) dengan menggunakan model Perceived Importance Of Information Security yang dikemukanan Chai et al (2006). Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan metode survei melalui penyebaran kuesioner dengan pengambilan sampel melalui probability sampling. Selanjutnya metode analisis statistik menggunakan aplikasi SPSS untuk menganalisis data. Berdasarkan sampel dari 55 pegawai program S1 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Hasil penelitian mendukung lima hipotesis yang diajukan penulis, bahwa secara umum terdapat pengaruh positif yang signifikan antara information security exposure terhadap information security self-efficacy, perceived information security importance dan information security behavior. Penelitian ini juga mengungkapakan bahwa information security self-efficacy dapat meningkatkan perceived information security importance dan pengaruh positif yang signifikan juga ditemukan dalam pengaruh antara perceived information security importance terhadap information security behavior. Kata Kunci: information security exposure, information security self-efficacy, perceived information security importance, information security behavior, kognitif sosial, self-efficacy.

ABSTRACT

Security is an important aspect for an informatian system. The dominant factors in information security is the lack of human resource either which of quantity or quality. The purpose of this research is to find out the cognitive role of individual due to information security (information security exposure, information security self-efficacy, perceived information security importance) toward information security behaviour by using perceived importance of information security model which has been used by chai et al (2006). This research is based on primary data collected from survey method by distributing questionnaires. The sampling methods used are probablity sampling. Furthermore, SPSS application is used as statistic analysis method to analize data attained from 55 samples collected from employees of S-1 Program of Economic and Business Faculty of University of Gadjah Mada. The research results support five hypotheses suggested by the author that there is generally information security exposure has positive impact and significant on information security self-efficacy, perceived information security importance and information security behavior. Furthermore, this research also shows that information security self-efficacy can increase perceived information security importance and perceived information security importance has a significant positive impact and significant on information security behavior. Keywords: information security exposure, information security self-efficacy, perceived information security importance, information security behavior, social cognitive, self-efficacy.

Backpacker trip to Singapore via Bintan

Standar

Lanjut dari rangkaian Fieldtrip Kampus, sebagian rekan melanjutkan wisata ala backpacker ke negeri seberang. Perjalanan dilakukan menggunakan Kapal/Ferry Cepat dari Pelabuhan Sri Bintan Pura Kota Tanjungpinang. Kamis, 27 Oktober 2016 Pukul 6.20 pagi kami telah tiba di pelabuhan karena ingin mengejar jadwal keberangkatan pukul 7 pagi. Setalah membayar pass pelabuhan sebesar Rp 13.000/orang (penumpang LN), kami membeli tiket ferry pada agen SindoFerry seharga Rp 230.000/orang. Pukul 6.40 kami boarding menuju kapal ferry dengan terlebih dahulu melewati pos pemeriksaan imigrasi.

Perjalanan selama 2 jam dengan gelombang yang cukup tenang membuat kami pun terlelap, maklum hari ini kami bangun lebih awal. Tepat Pukul 10.00 waktu Singapore, kami pun berlabuh di Terminal Ferry Tanah Merah. Setelah melewati pemeriksaan imigrasi yang cukup menegangkan dikarenakan beberapa rekan ditanyakan macam2 dan isi tasnya di periksa oleh petugas imigrasi. Perjalanan berikutnya dilanjutkan dengan menggunakan Bus menuju stasiun MRT Tanah Merah. Bus yang kami gunakan rute 35 yang bisa digunakan pembayaran dengan uang tunai ke mesin yang tersedia dengan tarif $1,2 (jadi bagi yang belum memiliki kartu EZ link/kartu MRT tidak perlu khawatir). Tiba di Stasiun Tanah Merah, Sebagian kami membeli kartu EZ link untuk memudahkan transaksi dalam menggunakan tranportasi publik di Singapore.

Karena jadwal check-in Hostel mulai pukul 14.00, akhirnya kami mampir ke Orchard karena ada rekan yang ingin membeli sepatu. Keluar stasiun MRT Orchard cuaca gerimis dan waktu sudah menunjukan jam 12 siang maka kami mampir ke Lucky Plaza untuk lunch di gerai Fastfood, pilihan kami jatuh ke Restoran Mc Donald, namun sayang restoran tersebut tidak terdapat sertifikat Halal.

Karena barang bawaan kami yang cukup banyak (Lanjutan dari Bintan), kami memutuskan segera check-in di Hostel Mitraa Inn (Serangoon Road) agar beban pundak cukup ringan sekaligus rehat sejenak.

Tepat pukul 16.00 perjalanan di lanjutkan menuju Pulau Sentosa menggunakan MRT via stasiun Farrer Park dan turun di stasiun Harbourfront. Setiap objek yang menarik selama perjalanan kami selalu mengabdikannya, seperti di Sri Srinivasa Perumal Temple, Vivo City dan sebagainya. Alhamdulillah cuaca cukup cerah di Sentosa Island. Kami berfoto di Sign Universal, Lake of Dreams, Sentosa Merlion, Madame Tussauds Singapore. Tepat jam 7 malam kami bergegas ke China Town untuk Dinner sekaligus mencari oleh2 (gantungan kunci & pigura). Namun saying, saat tiba di China Town satu-satunya restoran Halal (Masakan Padang) sedang menutup gerainya, maka kami segera menuju ke Foodcourt di Maxwell Centre yang tersedia makanan halal 24 jam. Lahap mengisi perut, kami segera bergegas ke destinasi berikutnya Merlion Park. Selama perjalanan menuju stasiun Tanjong Pagar, kami sempat bertemu gedung Red Dot Design Museum yang lokasinya persis di seberang gedung Ministry of National Development. Bangunan museum tersebut sangat klasik dan unik.

Turun di Stasiun Raffles Place, kami segere menuju lokasi Merlion dengan menyusuri Sungai Singapura maka kita akan bertemu jembatan lama yaitu Cavenagh Bridge dan Anderson Bridge yang mana saat malam hari sangat bagus untuk berfoto di lokasi tersebut. Puas berfoto dan ngobrol santai di kawasan Merlion Park, tepat jam 12 malam kami kembali ke Hostel dengan menggunakan bus, karena jam operasi MRT hanya sampai 23.30.

Penjelajahan pada hari kedua, ada 2 lokasi yang menjadi tujuan kami yakni Kawasan Marina Bay dan Bugis (di Bugis untuk makan siang sekaligus beli oleh2). Hari kedua kami bangun agak terlambat karena kelelahan semalam. Setelah mandi lanjut sarapan (free tersedia dari hostel berupa Roti dan minuman teh/kopi) dan check-out (Barang bisa di titip) kami segera menuju kawasan Marina Bay dengan berfoto dengan latar Marina Bay Sands dan area Gardens by the Bay. Menjelang siang kami segera menuju kawasan Bugis, kebetulan hari itu hari Jum’at dan sebelum melaksanakan Sholat jum’at Masjid Sultan saya mengisi perut dulu dengan menu murtabak beef seharga $5 di Restoran Singapore Zam-zam persis di seberang masjid. Saat jumatan saya merasakan persaudaraan yang sangat kokoh, yakni dalam ukhuwah Islamiyah karena jama’ah dari berbagai etnis dan suku bangsa berkumpul bersama di lokasi tersebut. Kutbah jum’at disampaikan dalam bahasa melayu sehingga saya pun dapat mudah memahami isi khutbah.

Setelah jumatan saya bergegas kembali ke Hostel, karena kami sudah memesan Shuttle Bus untuk ke Bandara dengan waktu Pick-up pukul 14.00. Setelah rekan berkumpul lengkap, akhirnya kami pun diantar dengan Shuttle Bus (layanan bekerjasama dengan Hostel dengan tarif $9/orang) ke Terminal 3 Bandara Changi.

Tiba di Bandara, kami segera check-in dan melakukan pengembalian saldo serta uang jaminan Kartu EZ-link di konter stasiun MRT yang berada di terminal 2. Oiya, sebelum masuk ruang tunggu bandara Changi, pastikan anda tidak membawa minum, apabila anda membawa botol minum segera kosongkan isinya dengan anda minum atau buang di toilet, karena anda akan segera diminta kosongkan botol minum oleh petugas ataupun apabila anda membawa minuman kaleng maka akan disita dan dibuang ke tempat sampah. Setelah masuk ruang tunggu, andapun bisa mengisi ulang botol minum anda dengan Pancuran Air siap minum yang bisanya berada dekat toilet. Jangan lupa juga nikmati kencangnya Free Wifi di kawasan Bandara Changi dengan melakukan registrasi singkat dank ode aktivasi akan dikirimkan ke nomor ponsel yang anda daftarkan.

Akhirnya kami kembali ke Negara Tercinta melalui Bandara Kebanggaan Bangsa, Soekarno-Hatta. C u again di backpakeran berikutnya….

Field Trip MPD 18 Goes to Bintan

Galeri

Ini Kisah Kami saat Backpacker-an

Standar

Wah… sudah lama juga ngga ngeblog, ada kerinduan tersendiri nih, apalagi tempo hari muncul postingan memories 4 tahun lalu di FB  yang saya share ke time line. Ternyata beberapa netizen ada yang bertanya dan penasaran tentang postingan itu, kenapa bisa sampai terlantar di kereta? He..he… Penasaran kan…. 😀

Awalnya, ide backpacker-an bersama keluarga muncul saat adanya penugasan dari kantor untuk melakukan pengumpulan berkas perjalanan dinas peserta Diklatpim di Balai Diklat Kepemimpinan BPPK Magelang.  Karena keterbatasan anggaran, kami memutuskan menggunakan moda transportasi kereta api saat berangkat dan pesawat udara saat pulang karena harus mengejar waktu tiba kembali di jakarta. Kondisi saat itu, status surat tugas hanya 3 hari (10-12 September 2012) dan anak-anak juga masih ada yang sekolah.

Sebenarnya saya sudah membuat intianery perjalanan kami dengan baik, namun di lapangan banyak perubahan dikarenakan ada faktor human error dan teknis kendaraan. Ditambah lagi sebelum melaksanakan tugas tersebut, kondisi pekerjaan di kantor cukup menyita waktu hingga kadang saya harus overtime yang menyebabkan konsentrasi terganggu. Dari sinilah awal terjadi human error tersebut.

Langsung ke kejadian pas hari H-nya ya …. J

Ahad pagi (9 sep 2012), kami (istri, anak 6 th, 4 th & 2,5 th) sudah siap menuju Stasiun Pasar Senen Jakarta, Taksi yang kami pesan pun sudah tiba tepat pada waktunya. Tiba di Stasiun Senen dengan 2 koper, 1 tas ransel , 1 Goodie bag & 1 kantong kresek tuk bekal makan siang di kereta. Setelah mencetak tiket di loket dan boarding (dicek petugas stasiun) kami pun memasuki kereta ekonomi AC Gajahwong gerbong 1. Dari sinilah awal petualangan yang tak terlupakan itu terjadi, setelah kami mendapatkan kursi sesuai nomor tiket, kami pun duduk manis. Namun tetiba, ada penumpang lain yang menghampiri kami dan menyatakan bahwa kursi yang kami duduki adalah kursi miliknya. Terjadilah perdebatan karena antara dia dan saya sama-sama memiliki tiket dengan nomor tempat duduk sama, hingga akhirnya datanglah petugas (kepala Kereta) untuk mengecek lebih detail, perlu diketahui saat kejadian posisi kereta sudah berjalan meninggalkan stasiun Pasar Senen. Setelah diamati dengan seksama oleh petugas, ternyata tiket saya lah yang salah, wakwaw…., karena pada tiket tertulis tanggal 12 September 2012 yang artinya itu tiket untuk 3 hari yang akan datang!

Saat itu juga petugas tersebut meminta saya turun di stasiun terdekat, padahal kami ber-5 dengan membawa anak-anak kecil dan barangnya yang cukup banyak. Dalam hati nih “petugas ga berperikemanusiaan amat sih?!”. Namun, karena kami sudah berniat ingin liburan, saya pun ngalah dan ga banyak debat demi menjaga mood anak-anak, tetapi saya tetap melakukan negosiasi dengan santun untuk meminta kebijakan yang baik. Selain itu saya pun meminta juga pertanggungjawaban petugas saat boarding, kenapa tanggal tiket berbeda bisa masuk area stasiun. Tapi…  tetap saja Kepala Kereta itu bersikeras agar saya turun di stasiun terdekat (stasiun Cikampek) dan tidak diperkenankan duduk di kursi kereta karena kami tidak punya tiket (walau saat itu ada beberapa kursi yang kosong) bahkan di ruang istirahat kru kereta pun kami tidak diperkenankan, ampun deh…. Akhirnya saya turuti kemauan beliau sambil ambil napas panjang dan berdoa semoga ada solusi yang win win solution.

Jadilah waktu itu kami ngegelosor di kereta restorasi, Alhamdulillah ada bagian kereta yang bisa dijadikan tempat duduk. Paling tidak muat lah untuk istri dan 2 anak kecil, yang bontot dipangku 😛

Saat itu, datang seorang petugas lainnya menghampiri kami. Dia memberikan satu solusi kepada kami untuk diajukan ke pimpinan kereta dan alternatif solusi yang dia lontarkan cukup oke menurut saya. Maka saya pun bergegas menemui kepala kereta untuk kembali bernegosiasi.

Bismillah, saya coba ajukan solusi bahwa saya akan ikut kereta sampai stasiun Cirebon dan di sana langsung member tiket ke Yogyakarta. Kenapa stasiun Cirebon? Karena di stasiun tersebut kereta berhenti cukup lama jadi insyaAllah cukup waktu untuk membeli tiket.

Stasiun Senen—Cirebon jarak yang cukup melelahkan untuk ukuran anak-anak dan terbukti ditengah perjalanan anak-anak mulai mengeluh karena sudah mengantuk dan pengen duduk di kursi, dengan wajah ceria saya bilang ke anak-anak “Duduk di lantai juga enak loh”, tetapi anak-anak tetap rewel karena sudah mengantuk, maklum lah… namanya juga anak-anak J apalagi mereka hari itu bangun lebih awal.

Alhamdulillah di tengah kerewelan anak-anak Kepala Kereta datang menemui kami dan akhirnya kami diijinkan beristirahat di ruang petugas. Alhamdulillah… mungkin beliau ga tega juga lihat anak-anak. Kami pun akhirnya mengobrol, saat itu beliau sempat mengatakan bahwa sebenarnya dia juga ga tega melihat yang kami alami, hal itu terpaksa beliau lakukan untuk menjaga reputasinya. Perlu diketahui saat itu PT KAI sedang melakukan upaya Good Governance dilingkungan kerjanya, petugas tersebut pun cerita saat ini anggota keluarga pegawai PT KAI tidak lagi gratis karena kebijakan baru, tetap harus membeli tiket dengan potongan harga. Saya pun memahami, memang hal ini terjadi karena kesalahan saya saat memesan tiket kereta, karena menjelang hari-H volume kerja lagi sibuk-sibuknya hingga saya pun kurang kosentrasi dan tidak mengecek lagi tanggal tiket kereta api tersebut yang mana seharusnya tanggal 9, tetapi saya beli tanggal 12.

Kereta akhirnya tiba di stasiun Kejaksan Cirebon dan berhenti, saya pun bergegas turun dan lari, iya berlari… lari secepat yang saya bisa, untuk membeli tiket perjalanan saat itu. Istri saya bercerita bahwa saat itu dia dan anak-anak berteriak-teriak memberi semangat kepada saya. Walau ga kedengeran, tapi biiznillah aura semangat dan harapan mereka terasa menyusup ke dalam jiwa, semangat, dan tumpah darahku he… he… he….

Biiznillah alhamdulillah akhirnya tiket KAI jurusan Cirebon-Yogyakarta pun saya dapatkan dan kami pun diperbolehkan duduk di kursi penumpang. Huft… leganya rasa!  Anak-anak tetap menunjukan wajah ceria J, lucunya anak-anak maunya duduk  ditempat sebelumnya yang bisa untuk tiduran… 😛 (dalam hati ketawa aja deh, memang kalo mo holiday bersama keluarga harus enjoy aja walau di saat sesulit apapun) dan nyatanya kejadian ini pun menjadi petualangan backpacker kami yang tak kan terlupakan.