Category Archives: Catatan / Opini

Catatan/Opini/Pengalaman pribadi dan keluarga tentang berbagai hal untuk kemajuan Bangsa, Agama, lingkungan dll
(maklum mo latihan jd penulis lepas)

Ini Kisah Kami saat Backpacker-an

Standar

Wah… sudah lama juga ngga ngeblog, ada kerinduan tersendiri nih, apalagi tempo hari muncul postingan memories 4 tahun lalu di FB  yang saya share ke time line. Ternyata beberapa netizen ada yang bertanya dan penasaran tentang postingan itu, kenapa bisa sampai terlantar di kereta? He..he… Penasaran kan….😀

Awalnya, ide backpacker-an bersama keluarga muncul saat adanya penugasan dari kantor untuk melakukan pengumpulan berkas perjalanan dinas peserta Diklatpim di Balai Diklat Kepemimpinan BPPK Magelang.  Karena keterbatasan anggaran, kami memutuskan menggunakan moda transportasi kereta api saat berangkat dan pesawat udara saat pulang karena harus mengejar waktu tiba kembali di jakarta. Kondisi saat itu, status surat tugas hanya 3 hari (10-12 September 2012) dan anak-anak juga masih ada yang sekolah.

Sebenarnya saya sudah membuat intianery perjalanan kami dengan baik, namun di lapangan banyak perubahan dikarenakan ada faktor human error dan teknis kendaraan. Ditambah lagi sebelum melaksanakan tugas tersebut, kondisi pekerjaan di kantor cukup menyita waktu hingga kadang saya harus overtime yang menyebabkan konsentrasi terganggu. Dari sinilah awal terjadi human error tersebut.

Langsung ke kejadian pas hari H-nya ya …. J

Ahad pagi (9 sep 2012), kami (istri, anak 6 th, 4 th & 2,5 th) sudah siap menuju Stasiun Pasar Senen Jakarta, Taksi yang kami pesan pun sudah tiba tepat pada waktunya. Tiba di Stasiun Senen dengan 2 koper, 1 tas ransel , 1 Goodie bag & 1 kantong kresek tuk bekal makan siang di kereta. Setelah mencetak tiket di loket dan boarding (dicek petugas stasiun) kami pun memasuki kereta ekonomi AC Gajahwong gerbong 1. Dari sinilah awal petualangan yang tak terlupakan itu terjadi, setelah kami mendapatkan kursi sesuai nomor tiket, kami pun duduk manis. Namun tetiba, ada penumpang lain yang menghampiri kami dan menyatakan bahwa kursi yang kami duduki adalah kursi miliknya. Terjadilah perdebatan karena antara dia dan saya sama-sama memiliki tiket dengan nomor tempat duduk sama, hingga akhirnya datanglah petugas (kepala Kereta) untuk mengecek lebih detail, perlu diketahui saat kejadian posisi kereta sudah berjalan meninggalkan stasiun Pasar Senen. Setelah diamati dengan seksama oleh petugas, ternyata tiket saya lah yang salah, wakwaw…., karena pada tiket tertulis tanggal 12 September 2012 yang artinya itu tiket untuk 3 hari yang akan datang!

Saat itu juga petugas tersebut meminta saya turun di stasiun terdekat, padahal kami ber-5 dengan membawa anak-anak kecil dan barangnya yang cukup banyak. Dalam hati nih “petugas ga berperikemanusiaan amat sih?!”. Namun, karena kami sudah berniat ingin liburan, saya pun ngalah dan ga banyak debat demi menjaga mood anak-anak, tetapi saya tetap melakukan negosiasi dengan santun untuk meminta kebijakan yang baik. Selain itu saya pun meminta juga pertanggungjawaban petugas saat boarding, kenapa tanggal tiket berbeda bisa masuk area stasiun. Tapi…  tetap saja Kepala Kereta itu bersikeras agar saya turun di stasiun terdekat (stasiun Cikampek) dan tidak diperkenankan duduk di kursi kereta karena kami tidak punya tiket (walau saat itu ada beberapa kursi yang kosong) bahkan di ruang istirahat kru kereta pun kami tidak diperkenankan, ampun deh…. Akhirnya saya turuti kemauan beliau sambil ambil napas panjang dan berdoa semoga ada solusi yang win win solution.

Jadilah waktu itu kami ngegelosor di kereta restorasi, Alhamdulillah ada bagian kereta yang bisa dijadikan tempat duduk. Paling tidak muat lah untuk istri dan 2 anak kecil, yang bontot dipangku😛

Saat itu, datang seorang petugas lainnya menghampiri kami. Dia memberikan satu solusi kepada kami untuk diajukan ke pimpinan kereta dan alternatif solusi yang dia lontarkan cukup oke menurut saya. Maka saya pun bergegas menemui kepala kereta untuk kembali bernegosiasi.

Bismillah, saya coba ajukan solusi bahwa saya akan ikut kereta sampai stasiun Cirebon dan di sana langsung member tiket ke Yogyakarta. Kenapa stasiun Cirebon? Karena di stasiun tersebut kereta berhenti cukup lama jadi insyaAllah cukup waktu untuk membeli tiket.

Stasiun Senen—Cirebon jarak yang cukup melelahkan untuk ukuran anak-anak dan terbukti ditengah perjalanan anak-anak mulai mengeluh karena sudah mengantuk dan pengen duduk di kursi, dengan wajah ceria saya bilang ke anak-anak “Duduk di lantai juga enak loh”, tetapi anak-anak tetap rewel karena sudah mengantuk, maklum lah… namanya juga anak-anak J apalagi mereka hari itu bangun lebih awal.

Alhamdulillah di tengah kerewelan anak-anak Kepala Kereta datang menemui kami dan akhirnya kami diijinkan beristirahat di ruang petugas. Alhamdulillah… mungkin beliau ga tega juga lihat anak-anak. Kami pun akhirnya mengobrol, saat itu beliau sempat mengatakan bahwa sebenarnya dia juga ga tega melihat yang kami alami, hal itu terpaksa beliau lakukan untuk menjaga reputasinya. Perlu diketahui saat itu PT KAI sedang melakukan upaya Good Governance dilingkungan kerjanya, petugas tersebut pun cerita saat ini anggota keluarga pegawai PT KAI tidak lagi gratis karena kebijakan baru, tetap harus membeli tiket dengan potongan harga. Saya pun memahami, memang hal ini terjadi karena kesalahan saya saat memesan tiket kereta, karena menjelang hari-H volume kerja lagi sibuk-sibuknya hingga saya pun kurang kosentrasi dan tidak mengecek lagi tanggal tiket kereta api tersebut yang mana seharusnya tanggal 9, tetapi saya beli tanggal 12.

Kereta akhirnya tiba di stasiun Kejaksan Cirebon dan berhenti, saya pun bergegas turun dan lari, iya berlari… lari secepat yang saya bisa, untuk membeli tiket perjalanan saat itu. Istri saya bercerita bahwa saat itu dia dan anak-anak berteriak-teriak memberi semangat kepada saya. Walau ga kedengeran, tapi biiznillah aura semangat dan harapan mereka terasa menyusup ke dalam jiwa, semangat, dan tumpah darahku he… he… he….

Biiznillah alhamdulillah akhirnya tiket KAI jurusan Cirebon-Yogyakarta pun saya dapatkan dan kami pun diperbolehkan duduk di kursi penumpang. Huft… leganya rasa!  Anak-anak tetap menunjukan wajah ceria J, lucunya anak-anak maunya duduk  ditempat sebelumnya yang bisa untuk tiduran…😛 (dalam hati ketawa aja deh, memang kalo mo holiday bersama keluarga harus enjoy aja walau di saat sesulit apapun) dan nyatanya kejadian ini pun menjadi petualangan backpacker kami yang tak kan terlupakan.

Belajar Customer Satisfaction bersama Tukang Sol sepatu

Standar

Siang itu kupinta anakku yang sulung untuk men-sol sepatunya yang jebol, termasuk menanayakan berapa ongkos pengerjaannya. Hal ini aku lakukan agar dia mandiri dengan urusannya.

Aku pun coba memantau keluar tuk melihat pekerjaan si Mamang (kayakanya urang sunda) tukang sol. Si mamang mulai pembicaraan :

M            : Masnya mirip si Yusup (maklum urang sunda, jadi bilangnya yusup)
S              : Yusuf yang mana?
M            : itu si yusup yang berdagang chiki
S              : (aku baru ngeh, karena karena ada rekan juga yang satu RW yang pedagang grosiran makanan ringan) oh…. Iya Pak Yusuf. Abang kenal dimana?
M            : Saya mah… kenal sama warga daerah itu. Mas kenal juga kan sama Pak **** (dia menyebut nama yg ga ku kenal) yang Pak RT dekat setu?
S              : oh… saya kenal itu mah … Aduh …. Pak siapa namanya? (saya memang sudah jarang berkontak dengan beliau, sehingga saya agak2 lupa namanya)
M            : mmm…. Pak Anton pak
S              : oh iya pak Anton

Saya mulai curiga nih sama si mamang Tukang Sol, apa karena dia melihat stiker partai di jendela rumah ku sehingga dia menganggap aku berteman dengan orang tersebut karena si mamang juga tahu dia juga pecinta partai yang sama.

Di situlah saya mulai terhentak. Wah si abang ini pintar juga mengambil hati si customer.

Selain dialog diatas, si mamang Tukang Sol Sepatu juga memberikan informasi dan pelayanan yang memusakan, saat menegerjakan sol sepatu istri saya :

M            : Wah ini alasnya kardus mas, mesti diganti. Ga bagus dan ga tahan lama
S              : Abang punya alas-nya tuk ganti?
M            : tenang mas … !!! saya ada tuk ganti alas-nya

Hati saya semakin terpicut lagi dengan pelayanan si mamang ini. Saya juga ingat ada sandal gunung si sulung yang hilang besi pengaitnya.

S              : mang, punya ga besi kayak gini tuk sandal anak saya (sambil saya tunjukkan sendalnya)
M            : Besi gitu … (sambil mencari-cari besi di kotak Sol sepatunya)
S              : Gini aja mang, saya ada kawat, tolong mamang buatkan besi pengaitnya (saya sambil masuk ke dalam mecari kawat besi)
S              : (keluar sambil membawa kawat besi dan Tang) wah .. mang … Kayaknya kawatnya ga kuat nih
M            : Jangan mas kalo gitu. Saya ada nih besi (dia tunjukkan besi pengait bekas sepatu wanita) bisa koq dibuat tuk jadi pengait.

Dalam hati, wah si mamang ini juga problem solver, padahal tambahan pengerjaan sandal anak saya ga masuk perhitungan awal jasa sol. Tambah senang sekali saya merasakan jasa pelayanan si mamang Tukang Sol Sepatu tersebut. Hingga aku membayar lebih kepada si mamang tersebut.

Pelajaran diatas, mungkin si mamang Tukang Sol Sepatu bisa aja menaikkan harga tinggi agar bisa terjadi tawar menawar, bisa aja si mamang ngesol tanpa mengajak ngobrol pelanggannya karena fokus dengan pekerjaannya, bisa saja si mamang bilang saat saya minta tolong jasa tambahan “wah ini kena biaya juga mas”. Tetapi itu tidak dia lakukan. Walapun terlihat pekerjaan informal, tetapi dia tetap memuaskan pelanggannya. Saya yakin si mamang tidak belajar tuh tentang teori customer satisfaction atau paham terkait jargon “pelayanan dari hati”.

Apapun profesi kita, apapun jenis usaha kita, kita bisa memuaskan pelanggan kita sehingga mereka menjadi senang dan insyaAllah menjadi sarana Ibadah dan mudah-mudahan rezeki pun semakin lancar. Amin

 

Menghargai

Standar

Sol SepatuBeberapa tahun yang lalu anak sulungku mendapatkan warisan sepatu dari sepupunya, saat itu ukurannya masih kebesaran. Sepatu itu kini sudah cukup muat di kakinya. Sepatu santai tersebut ia kenakan saat kami akan bermain futsal di lapangan komplek. Sepertinya dia menyukai sepatu tersebut karena solnya tebal dan tidak menggunakan tali walapun kulitnya telah mengelupas sebagian.

Saat menuju lapangan, anakku berlari dan terjatuh dikarenakan sepatu tersebut jebol alias lepas solnya. Dia sempat kecewa karena sepatu yang barusan ia senangi sudah terlihat rusak, bahkan ia sempat ngambek dengan meningalkan sol sepatu tersebut di jalan. Aku membujuknya “ambillah nak, nanti kita sol di tukang sol sepatu”.

Beberapa hari kemudian, Tukang Sol Sepatu lewati rumah kami. Ku suruh si Sulung tuk menghentikan laju si Abang Tukang Sol karena aku lagi repot me-nina-bobo-kan si bungsu. Ku tanyakan pada si sulung untuk bertanya berapa ongkos pengerjaannya. Aku mendenger dari dalam rumah, si Abang tukang sol menyebut biasa aja, 25 ribu lah. Kubilang OK pada si sulung tanda aku setuju.

Saat pengerjaan sol sepatu, istriku juga ingin mengesol sandal kesayangannya. Menurutku sandal istriku sih biasa aja apalagi mereknya ga jelas, dalam hatiku “sandal ginian mah ga usah di sol, minta baru juga ku bakal beliin, apalagi di Mall lagi banyak obral akhir tahun dan sebentar lagi kayaknya aku bakal dapat rizki dari rapelan uang saku Tubel selama 4 bulan”.

Dari kisah diatas, dapat ku ambil hikmahnya, bahwasanya anakku yang sulung dan istriku dapat menghargai barang yang dimilikinya baik itu pemberian orang ataupun pembelian sendiri. Banyak sekali ku mendengar rengekan anak2 kecil maupun remaja saat ini yang kurang bersyukur. Sepatunya masih layak, pengen minta yang baru karena mengikuti mode. Sepatunya banyak, tapi tak pernah kepakai semua sampai akhirnya kesempitan. Mungkin hal ini sepele bagi para Suami atau Ortu “ahh… kan harga barunya Cuma segini, gapapa lah sekalian nyenengin Istri atau anak”. Padahal mindset yang terjadi saat ini lebih banyak pengennya dari pada butuhnya, hal itulah yang mengakibatkan sifat konsumerisme. Saya sih lebih setuju, boleh membelikan suatu barang yang baru asal barang yang lamanya di sedekahkan, sehingga kita senang orang lain pun ikut senang.

Dunia Birokrat #2

Standar

*Aku berencana mengumpulkan tulisan/kisah terkait dunia birokrat/ke-pns-an yang selam ini aku alami, semoga dapat memberikan informasi yang baik bagi pembaca semua.

….. Setelah lulus STAN, segeralah aku melakukan daftar ulang. Dari SMA ku, hanya 4 orang yang diterima. Aku melakuakn daftar ulang bersama temanku yang bernama Dadang Arifin ayng keterima pada jurusan Akuntansi. Saat dia samperin aku, dia menggunakan sendal jepit. Aku akhirnya mengikuti beliau, menukar sepatuku dengan sendal jepit. Tetibanya di Kampus STAN ada aturan tuk melakukan daftar ulang harus berpakaian rapi dan mengguanakan sepatu. AKhirnya kami bingung, banyak yang daftar ulang tidak kami kenal. Saat di Pos Satpam Gerbang Utama Kampus STAN saya sudah mengusulkan ke rekan saya tuk pinjam sepatu Satpam aja daripada kita pulang tanpa hasil dan harsu kembali lagi., tetapi akhirnya kesabaran kami di jawab Allah. Rekan saya bernama Bintang datang dan membawa sepatu di mobilnya, akhirnya kami bergantian meminjam sepatu beliau untuk dafatar ulang.

Ada hal-hal lucu saat daftar ulang yang aku lakukan,
Pertama, Raka BD (Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru/Maba Bidang Bina Disiplin) yang berterika-terika dengan logat medok. Hal in tentunya membuat aku jadi cengigisan, maklum lahir dan besar di Jakarta baru kali ini dengar logat medok Jawa Timuran..
Kedua, Karena banyak calon MABA yang tidak disiplin, seperti tidak menggunakan ikat pinggang/gesper, sehingga Raka BD menginstrusikan calon MABA untuk membalik celananya atau menggunakan tali rafia. Ada seorang Calon MABA bukan hanya membalik celananya tetapi posisi celanada dalamnya pun di keluarkan sehingga ada Rakanita (Wanita) BD yang ketawa terpingkal-pingkal, persisi kayak superman deh ….

Akhirnya daftar ulang beres, satu permasalahan tuntas sudah. Tapi saya sempata berpikir, daftar ulangnya sudah agak menyeramkan, gimana pas nanti ospeknya ya !!!

to be continued…..

Dunia Birokrat #1

Standar

*Aku berencana mengumpulkan tulisan/kisah terkait dunia birokrat/ke-pns-an yang selam ini aku alami, semoga dapat memberikan informasi yang baik bagi pembaca semua.

ga afdhol kalo saya bercerita langsung dari dunia kerja birokrat, ada sebaiknya saya akan mengisahkan pengalaman awal waktu masuk sekolah kedinasan sabagai cikal bakal menjadi Birokrat.

Lulus SMA yang terpikirkan olehku hanya mau masuk PTN saja, karena saya ingin jadi Bisnisman dan pada zaman itu sedang laris bisnis produk kesehatan/herbal, maka saya berniat masuk Agrobisnis IPB. Agrobisnis IPB saya daftarkan pada pilihan ke-2, sedangkan pilihan pertama saya memilih FK Unand sebagai rasa hormat saya kepada Ibu yang ingin anaknya menjadi Dokter. Tapi saat tes UMPTN, saya tidak mengerjakan semua soal (dulu kalo ga salah Betul +4, salah -1), saya hanya mengerjakan soal yang yakin saja & saat itu saya sudah merasa cukup tuk tembus IPB.

Selain UMPTN, saya juga ikut-ikut tes Sekolah kedinasan hanya tuk menguji kemampuan aja (ngikutin Kakak). kepinginnya ikut STAN dan STIS, tapi waktu mo daftar STIS sudah terlambat, so hanya ikut STAN aja.

Lokasi Tes STAN dilaksanakan di Gelora Bung Karno dan hampir penuh semua kursi diisi peserta Ujian Masuk STAN dan itulah pertama kali saya masuk Stadion GBK (he 3x).

Pengumuman UMPTN bahwa saya jebol IPB yang mana pengumumannya lebih awal dari pengumuman STAN, so saya sudah menyiapkan diri tuk kuliah di Baogor. Selang beberapa hari ada teman yang ngabarin kalo namaku ada di pengumuman ujian seleksi masuk STAN, namun di pengumuman itu aku mendapat jurusan Kebendaharaan Negara (oiya, waktu dulu daftar kita boleh memilih 3 jurusan dan saya memilih Akuntansi, Pajak dan Bea Cukai. Biasa… jurusan yang sudah pasaran di telinga umum). Aku sempat ga percaya pada temanku tersebut, lalu aku ke rumahnya karena Bapak temanku ini memiliki cetakan pengumuman dan benar namaku ada di sana dengan nomor ujian yang sama persis.

Saat liburan keluarga di Anyer, dan saat rapat keluarga diputuskanah agar aku mengambil kuliah d STAN dikarenakan gratis. Apa boleh buat, takut membebani ortu kalo aku kuliah di IPB, maka akupun mengambil STAN

to be continued…..

Liputan Pelaksanaan Workshop SAIBA Ak. V Tahun 2014

Standar
Liputan Pelaksanaan Workshop SAIBA Ak. V Tahun 2014

Alhamdulillah …
Pelaksanaan Workshop Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual dan Aplikasi SAIBA Angkatan V pada KPPN Jakarta VI berjalan dengan baik dan lancar. Acara yang berlangsung pada tanggal 13 s.d. 16 Oktober 2014 bertempat di Aula Gedung KPPN Jl Ir. H. Juanda No 19 Jakarta Pusat di ikuti 30 peserta perwakilan dari satker mitra kerja KPPN Jakarta VI.

Workshop yang dibuka oleh Kepala KPPN Jakarta VI Bapak Tunas Agung Jiwa Brata, S.E., M.A. sekaligus memberikan ceramah tentang isu terkini terkait Akuntansi berbasis akrual di lini pemerintahan.

Materi workshop meliputi :
1. Gambaran Umum Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual <Pdf>
2. Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) <pdf>
3. Kebijakan Akuntansi Berbasis Akrual (KABA) <pdf>
4. Bagan Akun Standar (BAS) <pdf>
Materi 1 s.d. 4 disampaikan oleh Bpk. Benny Septialdi , S.E.
5. Jurnal Standar Akuntansi Pemerintah <pdf> beserta Simulasi disampaikan oleh Bpk. Budiman, Sst., Ak., Mba.
6. Overview Proses Bisnis Aplikasi SAIBA <pdf> disampaikan oleh Bpk. Rusli , S.E., Ak.M.M.
7. Praktikum Aplikasi SAIBA <Simulasi> didampingi oleh Bpk. Rusli , S.E., Ak.M.M. dan Bpk. Muhammad Alfian Perdana

Workshop ini sangat aplikatif karena selain belajar teori, peserta juga dilakukan praktikum dengan contoh soal yang cukup menantang guna menambah ketrampilan peserta dalam melakukan penjurnalan menggunakan Aplikasi SAIBA.

Usul Perbaikan SOP Penatausahaan Pelaksanaan Peningkatan Kapasitas SDM pada DJPBN

Standar

Banyak sekali kegiatan peningkatan kapasitas SDM baik berupa Diklat, Workshop, Sosialisasi, Bimtek, Seminar dan sebagainya yang dilaksanakan pada unit DJPBN baik yang dilaksanakan secara swakelola maupun pelaksanaan yang dilaksanakan oleh pihak lain. Namun yang sangat disayangkan, pengelolaan penatausahaan kegiatan peningkatan kapasitas SDM belum terkoordinasi dengan baik. Memang tidak dipungkiri pihak Direktorat yang ada di Kantor Pusat DJPBN maupun unit vertikal dapat melaksanakan kegiatan tersebut secara mandiri dengan anggaran yang dimilki maupun bekerjasamana dengan pihak lainnya.

Saya mengamati Reformasi Birokrasi di unit keraja sebagai bentuk terbentuknya SDM yang profesional dalam bekerja dengan didukung kapasitas ilmu atau skill yang dimilki pegawai. Salah satu bentuk peningkatan ilmu/skill pegawai adalah kegiatan peningkatan kapasitas SDM baik yang dilaksanakan oleh organisasi maupun pribadi. Kegiatan peningkatan kapasitas SDM ini sudah sering dilaksanakan namun sayangnya kurang tertata dalam pengelolaannya, sebagai contoh banyak kegiatan tersebut yang tidak ada dokumen formal bahwa pegawai telah mengikuti kegiatan tersebut (seperti sertifikat, namun karena kita bukan badan diklat hanya boleh menerbitkan surat keterangan aja). Adalagi standar Jamlat, Standar materi dan sebagainya termasuk proses publikasi.

Pegawai DJPBN mungkin sudah mengalaminya, sayang ingin langsung ke solusi yang mungkin dapat membantu walau hanya sedikit, sebagai berikut:

1. Dibuat SE Pengaturan tentang Tata Pengelolaan Pelaksanaan Peningkatan Kapasitas SDM
2. Unit Kantor Pusat (Direktorat) maupun unit vertikal (Kanwil atau Kantor Pelayanan) dapat melaksanakan kegiatan tsb baik secara mandiri atau bekerjasama dengan pihak lain dengan berkordinasi dengan Setditjen c.q. Bagian yang mengurusi Peningkatan Kapasitas SDM
3. Bagian yang mengurusi Kapasitas SDM akan membantu & membimbing terkait prosedur dan teknis pelaksanaan termasuk standarisasi serta penjadwalan dan pengumuman kegiatan sehingga terjadwal dengan rapih
4. Bagian yang mengurusi kapasitas SDM menggunakan aplikasi Teknologi Informasi sebagai membantu proses kerjanya

dengan alur tersebut diharapakan jadwal diklat dapat terpublikasi dengan luas dan mudah diketahui khalayak ramai, tidak mepet, tercatat dalam aplikasi, ada civil effect terhadap pola mutasi/promosi dsb serta sebagai data dalam mengambil kebijakan.

Semoga Ditjen Perbendaharaan lebih Jaya & Sukses setalah melakukan reformasi Organisasi dan SDM tentunya. Salam…