Category Archives: Catatan / Opini

Catatan/Opini/Pengalaman pribadi dan keluarga tentang berbagai hal untuk kemajuan Bangsa, Agama, lingkungan dll
(maklum mo latihan jd penulis lepas)

The Poernomos Story #1

Standar

Day#2
home@jember

19275084_10154746982738927_4429577716755198195_n

Saya dilahirkan tanpa punya kampung. Ayahnya papa orang Semarang, tapi hidup di Jakarta. Ibunya? orang Betawi. Ayah mama orang Silungkang, Sumbar. Ibunya orang Malang. Tapi keduanya sudah merantau bahkan sebelum mama lahir.
Tinggallah saya menyebut Jakarta sebagai kampung halaman. Absurd memang. Asal Jakarta tapi bukan asli Betawi.

Implikasinya jelas. Setiap lebaran saya hanya ke Kebon Kacang, Tanah Abang. Kedua Mbah saya tinggal hanya beda gang. Kebiasaan ‘mudik’ tahunan yg tidak berbeda dgn kunjungan mingguan. Melihat teman-teman yang punya kampung jelas bikin iri. Mendengar mereka bercerita tentang perjalanannya membuat saya ingin ganti topik pembicaraan. Sebagai gantinya, saya bilang orang yang mudik itu kampungan, “ndeso”, apalagi kalo liat rombongan orang memaksakan naik bus, kereta dan kapal laut. Bawa-bawa kardus mie instant lagi. Apa gak ada waktu lain apa? Apa gak kasian sama anak-anaknya? Apa gak sayang sama uangnya?.

Tapi itu dulu, sebelum tahun 2005. Tahun dimana saya melamar dan menikahi gadis Sumbersari, Jember (5 jam jalan darat dari Surabaya). Setelah itu saya jadi rutin mudik lebaran. Dua tahun sekali. Selang seling dengan Jakarta. Akhirnya saya resmi jadi orang kampung “Ndeso”. Perlahan saya paham bahagianya orang mudik. Suasana kebatinan penumpang yang akan pulang bertemu keluarga terasa sejak di bandara. Saya jadi mengerti kenapa wajah orang mudik tetap bahagia walau berhimpitan di bus dan berjubelan di kereta. Mereka rindu suasana rumah. Wangi seduhan daun teh di cangkir favorit. Harum rumput yg baru dipotong. Riuh rendah canda ponakan. Kenangan masa kecil di setiap surut rumah. Dan yang paling ditunggu, senyum bahagia orangtua menyambut kedatangan kesayangannya.

Saya dapat Jember satu paket dengan isteri. Buah mahar dan janji yg terucap yang luar biasa nikmatnya. Lengkap dengan keluarga, orangtua dan sudut-sudut kota Jember. Setiap saya mudik. Saya rasakan hangat rindu mengalir deras. Rindu suasana kampung. Rindu masakan mertua, kencan dgn isteri di warung STMJ depan SMAN 1 saat anak-anak telah terlelap, tahu lontong depan Depot Jawa Timur dan bakso Solo depan Matahari.

Sekarang saya punya dua kampung. Yang satu ‘kampung’ Jakarta lengkap dengan gelap gempita kotanya. Satu lagi kampung Jember lengkap dengan kehangatan dan ketenangan sentimentalnya. Nikmat dua kampung ini kelak akan saya turunkan ke Obigh dan Aqib. Kelak mereka akan belajar banyak dari dua kampung yang berbeda ini. Belajar hidup keras, tahan banting dan mandiri ala ‘kampung Jakarta. Belajar rendah hati, tenang, sabar dan ikhlas dari kampung Jember. Keduanya lengkap dengan cinta. Insyaallah karena Allah di dalamnya.

Aamiin..

***

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?): QS.55
Lainsyakartum laaziidannakum walainkarfartum inna ‘adzaabii lasyadid” (Jika kalian bersyukur pasti akan Aku tambah ni’mat-Ku padamu tetapi jika kalian kufur sesungguhnya adzab-Ku amat pedih): QS.14:7

sumber: https://www.facebook.com/tonny.w.poernomo/posts/10154746982818927

Iklan

Persepsi Atas Perilaku Keamanan Informasi Pada Pegawai Program S-1 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Standar

262383_mochamad-ramdani_eman
INTISARI

Masalah keamanan merupaka salah satu aspek penting bagi sebuah sistem informasi. Faktor dominan dalam keamanan informasi adalah kurangnya sumber daya manusia baik kuantitas maupun kualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran kognitif individu terkait dengan keamanan informasi (information security exposure, information security self-efficacy, perceived information security important) terhadap perilaku keamanan informasi (information security behavior) dengan menggunakan model Perceived Importance Of Information Security yang dikemukanan Chai et al (2006). Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan metode survei melalui penyebaran kuesioner dengan pengambilan sampel melalui probability sampling. Selanjutnya metode analisis statistik menggunakan aplikasi SPSS untuk menganalisis data. Berdasarkan sampel dari 55 pegawai program S1 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Hasil penelitian mendukung lima hipotesis yang diajukan penulis, bahwa secara umum terdapat pengaruh positif yang signifikan antara information security exposure terhadap information security self-efficacy, perceived information security importance dan information security behavior. Penelitian ini juga mengungkapakan bahwa information security self-efficacy dapat meningkatkan perceived information security importance dan pengaruh positif yang signifikan juga ditemukan dalam pengaruh antara perceived information security importance terhadap information security behavior. Kata Kunci: information security exposure, information security self-efficacy, perceived information security importance, information security behavior, kognitif sosial, self-efficacy.

ABSTRACT

Security is an important aspect for an informatian system. The dominant factors in information security is the lack of human resource either which of quantity or quality. The purpose of this research is to find out the cognitive role of individual due to information security (information security exposure, information security self-efficacy, perceived information security importance) toward information security behaviour by using perceived importance of information security model which has been used by chai et al (2006). This research is based on primary data collected from survey method by distributing questionnaires. The sampling methods used are probablity sampling. Furthermore, SPSS application is used as statistic analysis method to analize data attained from 55 samples collected from employees of S-1 Program of Economic and Business Faculty of University of Gadjah Mada. The research results support five hypotheses suggested by the author that there is generally information security exposure has positive impact and significant on information security self-efficacy, perceived information security importance and information security behavior. Furthermore, this research also shows that information security self-efficacy can increase perceived information security importance and perceived information security importance has a significant positive impact and significant on information security behavior. Keywords: information security exposure, information security self-efficacy, perceived information security importance, information security behavior, social cognitive, self-efficacy.

Backpacker trip to Singapore via Bintan

Standar

Lanjut dari rangkaian Fieldtrip Kampus, sebagian rekan melanjutkan wisata ala backpacker ke negeri seberang. Perjalanan dilakukan menggunakan Kapal/Ferry Cepat dari Pelabuhan Sri Bintan Pura Kota Tanjungpinang. Kamis, 27 Oktober 2016 Pukul 6.20 pagi kami telah tiba di pelabuhan karena ingin mengejar jadwal keberangkatan pukul 7 pagi. Setalah membayar pass pelabuhan sebesar Rp 13.000/orang (penumpang LN), kami membeli tiket ferry pada agen SindoFerry seharga Rp 230.000/orang. Pukul 6.40 kami boarding menuju kapal ferry dengan terlebih dahulu melewati pos pemeriksaan imigrasi.

Perjalanan selama 2 jam dengan gelombang yang cukup tenang membuat kami pun terlelap, maklum hari ini kami bangun lebih awal. Tepat Pukul 10.00 waktu Singapore, kami pun berlabuh di Terminal Ferry Tanah Merah. Setelah melewati pemeriksaan imigrasi yang cukup menegangkan dikarenakan beberapa rekan ditanyakan macam2 dan isi tasnya di periksa oleh petugas imigrasi. Perjalanan berikutnya dilanjutkan dengan menggunakan Bus menuju stasiun MRT Tanah Merah. Bus yang kami gunakan rute 35 yang bisa digunakan pembayaran dengan uang tunai ke mesin yang tersedia dengan tarif $1,2 (jadi bagi yang belum memiliki kartu EZ link/kartu MRT tidak perlu khawatir). Tiba di Stasiun Tanah Merah, Sebagian kami membeli kartu EZ link untuk memudahkan transaksi dalam menggunakan tranportasi publik di Singapore.

Karena jadwal check-in Hostel mulai pukul 14.00, akhirnya kami mampir ke Orchard karena ada rekan yang ingin membeli sepatu. Keluar stasiun MRT Orchard cuaca gerimis dan waktu sudah menunjukan jam 12 siang maka kami mampir ke Lucky Plaza untuk lunch di gerai Fastfood, pilihan kami jatuh ke Restoran Mc Donald, namun sayang restoran tersebut tidak terdapat sertifikat Halal.

Karena barang bawaan kami yang cukup banyak (Lanjutan dari Bintan), kami memutuskan segera check-in di Hostel Mitraa Inn (Serangoon Road) agar beban pundak cukup ringan sekaligus rehat sejenak.

Tepat pukul 16.00 perjalanan di lanjutkan menuju Pulau Sentosa menggunakan MRT via stasiun Farrer Park dan turun di stasiun Harbourfront. Setiap objek yang menarik selama perjalanan kami selalu mengabdikannya, seperti di Sri Srinivasa Perumal Temple, Vivo City dan sebagainya. Alhamdulillah cuaca cukup cerah di Sentosa Island. Kami berfoto di Sign Universal, Lake of Dreams, Sentosa Merlion, Madame Tussauds Singapore. Tepat jam 7 malam kami bergegas ke China Town untuk Dinner sekaligus mencari oleh2 (gantungan kunci & pigura). Namun saying, saat tiba di China Town satu-satunya restoran Halal (Masakan Padang) sedang menutup gerainya, maka kami segera menuju ke Foodcourt di Maxwell Centre yang tersedia makanan halal 24 jam. Lahap mengisi perut, kami segera bergegas ke destinasi berikutnya Merlion Park. Selama perjalanan menuju stasiun Tanjong Pagar, kami sempat bertemu gedung Red Dot Design Museum yang lokasinya persis di seberang gedung Ministry of National Development. Bangunan museum tersebut sangat klasik dan unik.

Turun di Stasiun Raffles Place, kami segere menuju lokasi Merlion dengan menyusuri Sungai Singapura maka kita akan bertemu jembatan lama yaitu Cavenagh Bridge dan Anderson Bridge yang mana saat malam hari sangat bagus untuk berfoto di lokasi tersebut. Puas berfoto dan ngobrol santai di kawasan Merlion Park, tepat jam 12 malam kami kembali ke Hostel dengan menggunakan bus, karena jam operasi MRT hanya sampai 23.30.

Penjelajahan pada hari kedua, ada 2 lokasi yang menjadi tujuan kami yakni Kawasan Marina Bay dan Bugis (di Bugis untuk makan siang sekaligus beli oleh2). Hari kedua kami bangun agak terlambat karena kelelahan semalam. Setelah mandi lanjut sarapan (free tersedia dari hostel berupa Roti dan minuman teh/kopi) dan check-out (Barang bisa di titip) kami segera menuju kawasan Marina Bay dengan berfoto dengan latar Marina Bay Sands dan area Gardens by the Bay. Menjelang siang kami segera menuju kawasan Bugis, kebetulan hari itu hari Jum’at dan sebelum melaksanakan Sholat jum’at Masjid Sultan saya mengisi perut dulu dengan menu murtabak beef seharga $5 di Restoran Singapore Zam-zam persis di seberang masjid. Saat jumatan saya merasakan persaudaraan yang sangat kokoh, yakni dalam ukhuwah Islamiyah karena jama’ah dari berbagai etnis dan suku bangsa berkumpul bersama di lokasi tersebut. Kutbah jum’at disampaikan dalam bahasa melayu sehingga saya pun dapat mudah memahami isi khutbah.

Setelah jumatan saya bergegas kembali ke Hostel, karena kami sudah memesan Shuttle Bus untuk ke Bandara dengan waktu Pick-up pukul 14.00. Setelah rekan berkumpul lengkap, akhirnya kami pun diantar dengan Shuttle Bus (layanan bekerjasama dengan Hostel dengan tarif $9/orang) ke Terminal 3 Bandara Changi.

Tiba di Bandara, kami segera check-in dan melakukan pengembalian saldo serta uang jaminan Kartu EZ-link di konter stasiun MRT yang berada di terminal 2. Oiya, sebelum masuk ruang tunggu bandara Changi, pastikan anda tidak membawa minum, apabila anda membawa botol minum segera kosongkan isinya dengan anda minum atau buang di toilet, karena anda akan segera diminta kosongkan botol minum oleh petugas ataupun apabila anda membawa minuman kaleng maka akan disita dan dibuang ke tempat sampah. Setelah masuk ruang tunggu, andapun bisa mengisi ulang botol minum anda dengan Pancuran Air siap minum yang bisanya berada dekat toilet. Jangan lupa juga nikmati kencangnya Free Wifi di kawasan Bandara Changi dengan melakukan registrasi singkat dank ode aktivasi akan dikirimkan ke nomor ponsel yang anda daftarkan.

Akhirnya kami kembali ke Negara Tercinta melalui Bandara Kebanggaan Bangsa, Soekarno-Hatta. C u again di backpakeran berikutnya….

Field Trip MPD 18 Goes to Bintan

Galeri

Ini Kisah Kami saat Backpacker-an

Standar

Wah… sudah lama juga ngga ngeblog, ada kerinduan tersendiri nih, apalagi tempo hari muncul postingan memories 4 tahun lalu di FB  yang saya share ke time line. Ternyata beberapa netizen ada yang bertanya dan penasaran tentang postingan itu, kenapa bisa sampai terlantar di kereta? He..he… Penasaran kan…. 😀

Awalnya, ide backpacker-an bersama keluarga muncul saat adanya penugasan dari kantor untuk melakukan pengumpulan berkas perjalanan dinas peserta Diklatpim di Balai Diklat Kepemimpinan BPPK Magelang.  Karena keterbatasan anggaran, kami memutuskan menggunakan moda transportasi kereta api saat berangkat dan pesawat udara saat pulang karena harus mengejar waktu tiba kembali di jakarta. Kondisi saat itu, status surat tugas hanya 3 hari (10-12 September 2012) dan anak-anak juga masih ada yang sekolah.

Sebenarnya saya sudah membuat intianery perjalanan kami dengan baik, namun di lapangan banyak perubahan dikarenakan ada faktor human error dan teknis kendaraan. Ditambah lagi sebelum melaksanakan tugas tersebut, kondisi pekerjaan di kantor cukup menyita waktu hingga kadang saya harus overtime yang menyebabkan konsentrasi terganggu. Dari sinilah awal terjadi human error tersebut.

Langsung ke kejadian pas hari H-nya ya …. J

Ahad pagi (9 sep 2012), kami (istri, anak 6 th, 4 th & 2,5 th) sudah siap menuju Stasiun Pasar Senen Jakarta, Taksi yang kami pesan pun sudah tiba tepat pada waktunya. Tiba di Stasiun Senen dengan 2 koper, 1 tas ransel , 1 Goodie bag & 1 kantong kresek tuk bekal makan siang di kereta. Setelah mencetak tiket di loket dan boarding (dicek petugas stasiun) kami pun memasuki kereta ekonomi AC Gajahwong gerbong 1. Dari sinilah awal petualangan yang tak terlupakan itu terjadi, setelah kami mendapatkan kursi sesuai nomor tiket, kami pun duduk manis. Namun tetiba, ada penumpang lain yang menghampiri kami dan menyatakan bahwa kursi yang kami duduki adalah kursi miliknya. Terjadilah perdebatan karena antara dia dan saya sama-sama memiliki tiket dengan nomor tempat duduk sama, hingga akhirnya datanglah petugas (kepala Kereta) untuk mengecek lebih detail, perlu diketahui saat kejadian posisi kereta sudah berjalan meninggalkan stasiun Pasar Senen. Setelah diamati dengan seksama oleh petugas, ternyata tiket saya lah yang salah, wakwaw…., karena pada tiket tertulis tanggal 12 September 2012 yang artinya itu tiket untuk 3 hari yang akan datang!

Saat itu juga petugas tersebut meminta saya turun di stasiun terdekat, padahal kami ber-5 dengan membawa anak-anak kecil dan barangnya yang cukup banyak. Dalam hati nih “petugas ga berperikemanusiaan amat sih?!”. Namun, karena kami sudah berniat ingin liburan, saya pun ngalah dan ga banyak debat demi menjaga mood anak-anak, tetapi saya tetap melakukan negosiasi dengan santun untuk meminta kebijakan yang baik. Selain itu saya pun meminta juga pertanggungjawaban petugas saat boarding, kenapa tanggal tiket berbeda bisa masuk area stasiun. Tapi…  tetap saja Kepala Kereta itu bersikeras agar saya turun di stasiun terdekat (stasiun Cikampek) dan tidak diperkenankan duduk di kursi kereta karena kami tidak punya tiket (walau saat itu ada beberapa kursi yang kosong) bahkan di ruang istirahat kru kereta pun kami tidak diperkenankan, ampun deh…. Akhirnya saya turuti kemauan beliau sambil ambil napas panjang dan berdoa semoga ada solusi yang win win solution.

Jadilah waktu itu kami ngegelosor di kereta restorasi, Alhamdulillah ada bagian kereta yang bisa dijadikan tempat duduk. Paling tidak muat lah untuk istri dan 2 anak kecil, yang bontot dipangku 😛

Saat itu, datang seorang petugas lainnya menghampiri kami. Dia memberikan satu solusi kepada kami untuk diajukan ke pimpinan kereta dan alternatif solusi yang dia lontarkan cukup oke menurut saya. Maka saya pun bergegas menemui kepala kereta untuk kembali bernegosiasi.

Bismillah, saya coba ajukan solusi bahwa saya akan ikut kereta sampai stasiun Cirebon dan di sana langsung member tiket ke Yogyakarta. Kenapa stasiun Cirebon? Karena di stasiun tersebut kereta berhenti cukup lama jadi insyaAllah cukup waktu untuk membeli tiket.

Stasiun Senen—Cirebon jarak yang cukup melelahkan untuk ukuran anak-anak dan terbukti ditengah perjalanan anak-anak mulai mengeluh karena sudah mengantuk dan pengen duduk di kursi, dengan wajah ceria saya bilang ke anak-anak “Duduk di lantai juga enak loh”, tetapi anak-anak tetap rewel karena sudah mengantuk, maklum lah… namanya juga anak-anak J apalagi mereka hari itu bangun lebih awal.

Alhamdulillah di tengah kerewelan anak-anak Kepala Kereta datang menemui kami dan akhirnya kami diijinkan beristirahat di ruang petugas. Alhamdulillah… mungkin beliau ga tega juga lihat anak-anak. Kami pun akhirnya mengobrol, saat itu beliau sempat mengatakan bahwa sebenarnya dia juga ga tega melihat yang kami alami, hal itu terpaksa beliau lakukan untuk menjaga reputasinya. Perlu diketahui saat itu PT KAI sedang melakukan upaya Good Governance dilingkungan kerjanya, petugas tersebut pun cerita saat ini anggota keluarga pegawai PT KAI tidak lagi gratis karena kebijakan baru, tetap harus membeli tiket dengan potongan harga. Saya pun memahami, memang hal ini terjadi karena kesalahan saya saat memesan tiket kereta, karena menjelang hari-H volume kerja lagi sibuk-sibuknya hingga saya pun kurang kosentrasi dan tidak mengecek lagi tanggal tiket kereta api tersebut yang mana seharusnya tanggal 9, tetapi saya beli tanggal 12.

Kereta akhirnya tiba di stasiun Kejaksan Cirebon dan berhenti, saya pun bergegas turun dan lari, iya berlari… lari secepat yang saya bisa, untuk membeli tiket perjalanan saat itu. Istri saya bercerita bahwa saat itu dia dan anak-anak berteriak-teriak memberi semangat kepada saya. Walau ga kedengeran, tapi biiznillah aura semangat dan harapan mereka terasa menyusup ke dalam jiwa, semangat, dan tumpah darahku he… he… he….

Biiznillah alhamdulillah akhirnya tiket KAI jurusan Cirebon-Yogyakarta pun saya dapatkan dan kami pun diperbolehkan duduk di kursi penumpang. Huft… leganya rasa!  Anak-anak tetap menunjukan wajah ceria J, lucunya anak-anak maunya duduk  ditempat sebelumnya yang bisa untuk tiduran… 😛 (dalam hati ketawa aja deh, memang kalo mo holiday bersama keluarga harus enjoy aja walau di saat sesulit apapun) dan nyatanya kejadian ini pun menjadi petualangan backpacker kami yang tak kan terlupakan.

Belajar Customer Satisfaction bersama Tukang Sol sepatu

Standar

Siang itu kupinta anakku yang sulung untuk men-sol sepatunya yang jebol, termasuk menanayakan berapa ongkos pengerjaannya. Hal ini aku lakukan agar dia mandiri dengan urusannya.

Aku pun coba memantau keluar tuk melihat pekerjaan si Mamang (kayakanya urang sunda) tukang sol. Si mamang mulai pembicaraan :

M            : Masnya mirip si Yusup (maklum urang sunda, jadi bilangnya yusup)
S              : Yusuf yang mana?
M            : itu si yusup yang berdagang chiki
S              : (aku baru ngeh, karena karena ada rekan juga yang satu RW yang pedagang grosiran makanan ringan) oh…. Iya Pak Yusuf. Abang kenal dimana?
M            : Saya mah… kenal sama warga daerah itu. Mas kenal juga kan sama Pak **** (dia menyebut nama yg ga ku kenal) yang Pak RT dekat setu?
S              : oh… saya kenal itu mah … Aduh …. Pak siapa namanya? (saya memang sudah jarang berkontak dengan beliau, sehingga saya agak2 lupa namanya)
M            : mmm…. Pak Anton pak
S              : oh iya pak Anton

Saya mulai curiga nih sama si mamang Tukang Sol, apa karena dia melihat stiker partai di jendela rumah ku sehingga dia menganggap aku berteman dengan orang tersebut karena si mamang juga tahu dia juga pecinta partai yang sama.

Di situlah saya mulai terhentak. Wah si abang ini pintar juga mengambil hati si customer.

Selain dialog diatas, si mamang Tukang Sol Sepatu juga memberikan informasi dan pelayanan yang memusakan, saat menegerjakan sol sepatu istri saya :

M            : Wah ini alasnya kardus mas, mesti diganti. Ga bagus dan ga tahan lama
S              : Abang punya alas-nya tuk ganti?
M            : tenang mas … !!! saya ada tuk ganti alas-nya

Hati saya semakin terpicut lagi dengan pelayanan si mamang ini. Saya juga ingat ada sandal gunung si sulung yang hilang besi pengaitnya.

S              : mang, punya ga besi kayak gini tuk sandal anak saya (sambil saya tunjukkan sendalnya)
M            : Besi gitu … (sambil mencari-cari besi di kotak Sol sepatunya)
S              : Gini aja mang, saya ada kawat, tolong mamang buatkan besi pengaitnya (saya sambil masuk ke dalam mecari kawat besi)
S              : (keluar sambil membawa kawat besi dan Tang) wah .. mang … Kayaknya kawatnya ga kuat nih
M            : Jangan mas kalo gitu. Saya ada nih besi (dia tunjukkan besi pengait bekas sepatu wanita) bisa koq dibuat tuk jadi pengait.

Dalam hati, wah si mamang ini juga problem solver, padahal tambahan pengerjaan sandal anak saya ga masuk perhitungan awal jasa sol. Tambah senang sekali saya merasakan jasa pelayanan si mamang Tukang Sol Sepatu tersebut. Hingga aku membayar lebih kepada si mamang tersebut.

Pelajaran diatas, mungkin si mamang Tukang Sol Sepatu bisa aja menaikkan harga tinggi agar bisa terjadi tawar menawar, bisa aja si mamang ngesol tanpa mengajak ngobrol pelanggannya karena fokus dengan pekerjaannya, bisa saja si mamang bilang saat saya minta tolong jasa tambahan “wah ini kena biaya juga mas”. Tetapi itu tidak dia lakukan. Walapun terlihat pekerjaan informal, tetapi dia tetap memuaskan pelanggannya. Saya yakin si mamang tidak belajar tuh tentang teori customer satisfaction atau paham terkait jargon “pelayanan dari hati”.

Apapun profesi kita, apapun jenis usaha kita, kita bisa memuaskan pelanggan kita sehingga mereka menjadi senang dan insyaAllah menjadi sarana Ibadah dan mudah-mudahan rezeki pun semakin lancar. Amin

 

Menghargai

Standar

Sol SepatuBeberapa tahun yang lalu anak sulungku mendapatkan warisan sepatu dari sepupunya, saat itu ukurannya masih kebesaran. Sepatu itu kini sudah cukup muat di kakinya. Sepatu santai tersebut ia kenakan saat kami akan bermain futsal di lapangan komplek. Sepertinya dia menyukai sepatu tersebut karena solnya tebal dan tidak menggunakan tali walapun kulitnya telah mengelupas sebagian.

Saat menuju lapangan, anakku berlari dan terjatuh dikarenakan sepatu tersebut jebol alias lepas solnya. Dia sempat kecewa karena sepatu yang barusan ia senangi sudah terlihat rusak, bahkan ia sempat ngambek dengan meningalkan sol sepatu tersebut di jalan. Aku membujuknya “ambillah nak, nanti kita sol di tukang sol sepatu”.

Beberapa hari kemudian, Tukang Sol Sepatu lewati rumah kami. Ku suruh si Sulung tuk menghentikan laju si Abang Tukang Sol karena aku lagi repot me-nina-bobo-kan si bungsu. Ku tanyakan pada si sulung untuk bertanya berapa ongkos pengerjaannya. Aku mendenger dari dalam rumah, si Abang tukang sol menyebut biasa aja, 25 ribu lah. Kubilang OK pada si sulung tanda aku setuju.

Saat pengerjaan sol sepatu, istriku juga ingin mengesol sandal kesayangannya. Menurutku sandal istriku sih biasa aja apalagi mereknya ga jelas, dalam hatiku “sandal ginian mah ga usah di sol, minta baru juga ku bakal beliin, apalagi di Mall lagi banyak obral akhir tahun dan sebentar lagi kayaknya aku bakal dapat rizki dari rapelan uang saku Tubel selama 4 bulan”.

Dari kisah diatas, dapat ku ambil hikmahnya, bahwasanya anakku yang sulung dan istriku dapat menghargai barang yang dimilikinya baik itu pemberian orang ataupun pembelian sendiri. Banyak sekali ku mendengar rengekan anak2 kecil maupun remaja saat ini yang kurang bersyukur. Sepatunya masih layak, pengen minta yang baru karena mengikuti mode. Sepatunya banyak, tapi tak pernah kepakai semua sampai akhirnya kesempitan. Mungkin hal ini sepele bagi para Suami atau Ortu “ahh… kan harga barunya Cuma segini, gapapa lah sekalian nyenengin Istri atau anak”. Padahal mindset yang terjadi saat ini lebih banyak pengennya dari pada butuhnya, hal itulah yang mengakibatkan sifat konsumerisme. Saya sih lebih setuju, boleh membelikan suatu barang yang baru asal barang yang lamanya di sedekahkan, sehingga kita senang orang lain pun ikut senang.